
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Zain Fuadi Muhammad Roziqifath masih ingat betul rasanya berdiri di tengah lapangan saat hari pertama orientasi mahasiswa, menerima teguran keras karena ketidaksiapan perlengkapan. Baginya, itu adalah momen "patah" yang justru menjadi fondasi disiplinnya selama kuliah. Memulai perjalanan akademik dengan nilai yang sempat merosot di awal, ia justru bangkit dan menutup babak studinya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan prestasi membanggakan.
Pria yang akrab disapa Zain itu berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,99. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan memori tentang beratnya transisi dari bangku SMA ke dunia kampus. Pada semester awal, ia mengaku keteteran menghadapi pola tugas dan ritme belajar mandiri yang menuntut tanggung jawab penuh.
“Semester awal terasa sangat berat karena saya belum memahami mekanisme penilaian dan alur akademik di kampus. Bahkan, nilai saya sempat menurun. Baru di semester tiga dan empat, akademik saya mulai stabil,” ungkapnya.
Setelah menemukan ritme belajarnya, tantangannya bergeser pada cara menjaga konsistensi. Di tengah kesibukan organisasi sebagai ketua UKM Capital Market Community (CMC), ia mulai terlibat aktif berkolaborasi dengan dosen dalam penulisan artikel ilmiah.
Proses ini mengasah ketajamannya hingga ia sukses menerbitkan tiga artikel ilmiah yang menembus jurnal internasional bereputasi, Scopus. Tak sampai di situ, ia juga sukses membawa pulang medali emas dan perak dalam ajang kompetisi internasional di India, serta menjadi juara dalam lomba trading saham tingkat nasional.
Rasa ingin tahunya juga membawanya terbang ke ‘Negeri Ginseng’ untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Saekyung University, Korea Selatan. Di sana, ia tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga menyerap budaya akademik yang sangat disiplin.
“Awalnya saya hanya mencoba mendaftar tanpa ekspektasi tinggi. Ternyata lolos, dan saya belajar banyak hal baru di Korea, terutama soal adaptasi budaya dan kemandirian,” tambahnya.
Meski memiliki deretan pencapaian mentereng, wisudawan yang kini banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk riset ini tetap bersahaja. Ia merasa capaiannya saat ini hanyalah bonus dari ketekunan menjalankan proses, bukan hasil dari pengejaran ambisi semata.
Baginya, setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk bersinar. Hasil yang baik akan selalu mengikuti proses yang dikerjakan secara maksimal.
“Jangan terpaku pada posisi terbaik. Lakukan saja yang bisa dilakukan semaksimal mungkin. Kalau usaha sudah maksimal, hasil biasanya akan mengikuti,” pungkasnya. ][
***
Reporter: Saputra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: