
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Bagi sebagian anak, tayangan berita kriminal di televisi mungkin hanya sekadar selingan. Namun bagi Puja Aqdamuyasyaro Permata Sari, deretan kasus hukum yang menghiasi layar kaca adalah pemantik rasa ingin tahu yang besar.
Berawal dari diskusi-diskusi ringan di meja makan bersama sang ayah, ketertarikan gadis asal Desa Kebonwaris, Pandaan, Pasuruan ini terhadap dunia hukum mulai mengakar sejak dini.
Kini, ketekunan itu membuahkan hasil manis. Puja resmi dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Hukum (FH), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86. Pencapaian ini kian mengesankan mengingat latar belakang pendidikannya di SMA Negeri 1 Purwosari yang mengambil jurusan IPA melalui program akselerasi dua tahun.
“Sejak kecil saya sering melihat berita kasus hukum di televisi dan berdiskusi dengan ayah. Dari situ, saya mulai tertarik memahami bagaimana sebenarnya hukum bekerja di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Dukungan keluarga menjadi pilar utama dalam perjalanan akademiknya. Sang ayah, Ahmad Sahroni, yang merupakan seorang perangkat desa. Pun, ibunya, memberikan kebebasan penuh untuk aktif mengeksplorasi potensi diri selama hal tersebut positif dan bertanggung jawab.
Teliti Cyber Child Grooming
Kepedulian Puja terhadap kelompok rentan tercermin jelas dalam skripsi penelitiannya yang membandingkan hukum Indonesia dan Australia terkait Cyber Child Grooming. Ia merasa prihatin melihat maraknya kejahatan seksual terhadap anak di ruang digital yang belum diimbangi dengan regulasi domestik yang memadai.
Dalam analisisnya, ia menguraikan bahwa peraturan di Indonesia masih cenderung parsial dan belum secara eksplisit mengatur unsur-unsur manipulasi digital (grooming) dalam satu pasal khusus.
Berbeda dengan Australia yang telah memiliki aturan komprehensif. Atas temuan tersebut, ia menawarkan gagasan progresif berupa reformulasi Pasal 76E Undang-Undang Perlindungan Anak agar penindakan hukum dapat dilakukan sejak tahap awal niat pelaku muncul di sistem elektronik.
Selama menyandang status mahasiswa, Puja dikenal sebagai sosok yang haus akan kompetisi dan pengalaman lapangan. Ia tercatat sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FH Unesa 2025 dan menyabet berbagai gelar juara esai mulai dari tingkat nasional hingga internasional.
Pengalaman dan Prestasi
Di organisasi, ia pernah mengemban amanah sebagai Kepala Biro Mooting pada Komunitas Moot Court FH Unesa serta Bendahara Umum di UKM Ilmiah (UKIM) Unesa.
Tak hanya jago berteori, ia mengasah taji hukumnya melalui program magang sebagai Asisten Jaksa di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Di sana, ia terlibat langsung dalam analisis berkas perkara hingga penyusunan dakwaan.
Pengalaman ini diperkaya dengan kiprahnya di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Legundi, di mana ia terjun membantu masyarakat di Pos Bantuan Hukum Pengadilan Negeri Surabaya dan Sidoarjo.
“Pengalaman lapangan ini memperkuat pandangan saya bahwa hukum tidak hanya soal teks dalam buku, tetapi alat nyata untuk menghadirkan keadilan bagi masyarakat kecil,” tambahnya.
Meski memiliki segudang kesibukan, Puja tetap mampu menjaga performa akademiknya. Rahasianya bukan pada belajar secara berlebihan, melainkan pada kedisiplinan menjaga konsistensi. Ia terbiasa membuat jadwal yang terukur dan menyelesaikan setiap tanggung jawab tepat pada waktunya.
Baginya, prestasi yang diraihnya saat ini hanyalah awal dari pengabdian panjang. Kisahnya menjadi bukti bahwa minat yang dirawat sejak kecil, jika dipadukan dengan kerja keras dan kepedulian sosial, akan melahirkan pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tajam dalam nurani keadilan. ][
***
Reporter: Prisma (FBS)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Puja Aqdamuyasyaro Permata Sari
Share It On: