
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Prodi S-1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar kuliah tamu bertajuk “Ekranisasi sebagai Transformasi Intermedial”. Agenda yang mengeksplorasi tantangan alih wahana dari teks sastra ke bentuk visual ini berlangsung di Auditorium T2, Gedung FBS, Kampus II Lidah Wetan, pada Jumat, 27 Februari 2026.
Kuliah tamu ini menghadirkan pendiri Studio Daluang, Yusril Ihza F.A., beserta tim sebagai narasumber. Kehadiran praktisi industri kreatif ini bertujuan untuk memberikan perspektif riil mengenai proses teknis dan estetis dalam mengolah narasi sastra menjadi karya sinematik.
Ketua pelaksana, Jasmine Balfas, menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut didasari kebutuhan mahasiswa untuk memahami bahwa ekranisasi bukan sekadar memindahkan plot cerita dari buku ke layar lebar.
Menurutnya, proses ini merupakan transformasi intermedia yang kompleks, melibatkan irisan elemen teoretis, estetis, hingga ideologis. “Tujuannya agar mahasiswa memiliki bekal akademik dan kreativitas yang solid dalam menghadapi tantangan naratif saat mentransformasi teks ke dalam bentuk visual,” ujarnya.
Sebagai bagian dari simulasi praktis, sesi ini juga diisi dengan penayangan film pendek karya Studio Daluang. Melalui karya tersebut, tim narasumber membedah berbagai problematika naratif yang sering muncul dalam produksi profesional, mulai dari penerjemahan deskripsi bahasa ke dalam bahasa gambar hingga penataan audio yang mampu menghidupkan ruh teks aslinya.
Dosen pengampu Mata Kuliah Ekranisasi, Ririe Rengganis mengungkapkan bahwa pada periode ini, mahasiswa ditantang untuk mengekranisasikan karya-karya legendaris sastrawan Ahmad Tohari. Beberapa judul besar yang menjadi objek proyek mahasiswa antara lain Di Kaki Bukit Cibalak, Bekisar Merah, dan Orang-orang Proyek.
Pemilihan karya Ahmad Tohari tersebut bukan tanpa alasan. Riri Rengganis menekankan bahwa narasi Tohari sangat relevan dengan isu-isu kontemporer bangsa, seperti korupsi dan kekerasan sistemik. Melalui proyek ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga tumbuh empati dan kepekaan sosialnya.
“Saya berharap mahasiswa mulai bisa melihat dan memiliki empati terhadap kondisi bangsa saat ini, termasuk kasus korupsi dan kekerasan sistemik—kekerasan yang terjadi karena sistem,” tegasnya.
Kuliah tamu ini diproyeksikan menjadi jembatan antara teori di ruang kelas dengan realitas industri kreatif. Output dari mata kuliah ini ditargetkan mampu menghasilkan karya film berkualitas yang layak bersaing di berbagai festival film.
“Harapannya, mahasiswa memiliki bekal pengetahuan bahwa sastra dan film adalah bagian dari keseharian yang mampu membangkitkan kepekaan sosial mereka,” pungkasnya. ][
***
Reporter: Azam Mudzaky (Internship)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: