
Unesa.ac.id. SURABAYA— Peluang riset bersama dengan dukungan pendanaan pemerintah Hong Kong menjadi salah satu agenda yang dibuka dalam kolaborasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan The Hong Kong Polytechnic University (PolyU). Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan delegasi PolyU dengan jajaran Unesa di Gedung Rektorat, Kampus 2 Lidah Wetan, Surabaya, Selasa, 8 September 2026.
Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada penelitian dan publikasi bersama. Kedua perguruan tinggi juga membahas peluang pertukaran mahasiswa dan staf pengajar, program double degree, serta sistem pembelajaran berbasis micro-credentials yang fleksibel bagi mahasiswa.
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari program matchmaking ke Hong Kong yang dilakukan jajaran pimpinan dan tim Unesa sekitar tiga bulan sebelumnya. Dari penjajakan tersebut, pembahasan kini bergerak pada sejumlah bentuk kolaborasi akademik yang lebih konkret.
Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah Unesa, Nadi Suprapto mengatakan kunjungan delegasi PolyU menjadi bagian dari perluasan jaringan kemitraan global Unesa, khususnya untuk membuka kolaborasi akademik dan riset.

“Kunjungan delegasi PolyU merupakan pencapaian penting bagi perluasan jaringan kemitraan global UNESA. Kemitraan erat ini membuka kesempatan besar untuk melakukan kolaborasi akademis strategis, berupa pertukaran mahasiswa dan program riset bersama,” tutur guru besar FMIPA tersebut.
Kolaborasi tersebut juga dikaitkan dengan penguatan kapasitas akademik Unesa melalui skema Equity. Menurutnya, kemitraan dengan PolyU diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas penelitian dosen sekaligus pemenuhan indikator kinerja utama kampus.
“Melalui skema Equity, Unesa berkomitmen menghadirkan akademisi berkelas internasional dengan reputasi global yang tinggi. Kemitraan ini dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas penelitian dosen serta pemenuhan indikator kinerja utama kampus,” tambahnya.
Dari sisi PolyU, peluang implementasi kerja sama juga terbuka melalui program mobilitas akademik. Esther Tong, Director CPCE Centre for Pedagogical Research PolyU, menyatakan kesiapan institusinya untuk memfasilitasi mobilitas dua arah antara kedua perguruan tinggi.
“Pertemuan ini membuka jalan bagi pelaksanaan program pertukaran staf pengajar dan mahasiswa. Kami juga mengundang sivitas akademika UNESA untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ilmiah kami, baik melalui seminar hibrida maupun konferensi riset internasional yang kami adakan secara berkala,” ujarnya.

Sementara itu, Wen Zhisheng (Edward), Associate Division Head and Senior Lecturer Division of Languages and Communication PolyU, menguraikan peluang pendanaan riset kolaboratif berskala besar yang didukung pemerintah Hong Kong. Skema tersebut terbuka untuk melibatkan peneliti Unesa sebagai mitra dalam proyek penelitian internasional.
“Kami mengusulkan kolaborasi riset yang mengarah pada publikasi bersama di jurnal internasional bereputasi tinggi. Pemerintah Hong Kong menyediakan skema pendanaan kompetitif untuk riset internasional, dan kami sangat menyambut baik kehadiran akademisi Unesa sebagai mitra peneliti utama (co-investigator) dalam proyek-proyek strategis ini,” kata guru besar PolyU tersebut.
Selain riset dan mobilitas akademik, diskusi juga membahas peluang program double degree serta sistem pembelajaran berbasis micro-credentials. Kedua skema tersebut membuka kemungkinan pengembangan pengalaman akademik yang lebih fleksibel bagi mahasiswa. ][
***
Reporter: Dinda Aulya (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






