
Kehilangan orang tua membuat banyak laki-laki kehilangan semangat dan arah. Namun tidak bagi Moh. Turi yang memilih terus bangkit, berjuang, dan sekarang menjadi doktor termuda di Unesa.
Unesa.ac.id. SURABAYA – Di Graha Unesa, saat wisuda periode ke-117 digelar, ada satu nama yang menyimpan cerita perjuangan dan ketangguhan: Mohammad Turi. Lulusan kelahiran Sampang, Madura, 15 Mei 1999, ini berhasil menorehkan prestasi yang menakjubkan, meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK sempurna 4,00, sekaligus menjadi doktor termuda Unesa di usia 26 tahun.
Kisah hidup Turi dimulai dengan keterbatasan. Anak tunggal dari pasangan Buniwi dan Sirah—yang keduanya telah berpulang—ini harus tumbuh dalam asuhan sang nenek sejak ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan. Kondisi kehilangan orang tua ini menjadi energi yang mendorongnya meraih prestasi yang melampaui batas.
Titik balik hidup Turi bermula dari kecintaannya pada olahraga. Ia memulai dengan tinggal di asrama atlet KONI Sampang, dan melalui ketekunan, ia berhasil menjadi atlet berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional. Jalur olahraga inilah yang membawanya masuk Unesa pada 2018.
Kesempatan berkuliah tidak disia-siakannya. Ia membuktikan diri dengan lulus program sarjana (S-1) hanya dalam 3,5 tahun dengan IPK 3,80. Prestasi akademiknya terus melonjak, hingga pada 2022, ia mendapatkan beasiswa S-2 di Unesa.
“Saya menuntaskan studi hanya dalam 1 tahun 1 bulan dengan IPK sempurna 4,00 dan menjadi lulusan terbaik program magister,” ujarnya.
Kini, pencapaian membanggakan itu kembali terukir pada program S-3 Ilmu Keolahragaan Unesa, yang berhasil ia tempuh hanya dalam waktu 2 tahun, mengukuhkan gelar doktor termuda di usianya yang ke-26.

www.unesa.ac.id
Dalam disertasinya, Turi tidak hanya berfokus pada teori, tetapi langsung menciptakan sebuah inovasi yang berdampak nyata di dunia atletik. Disertasinya berjudul “Implementasi Model Latihan Turdistance Terhadap Kecepatan, Kekuatan Otot Tungkai, Power Otot Tungkai, Daya Tahan, dan Penurunan Kejenuhan pada Atlet Atletik Middle Distance.”
Model Latihan Turdistance yang ia kembangkan adalah inovasi latihan atletik yang dirancang khusus untuk meningkatkan performa atlet jarak menengah (middle distance).
"Model ini memadukan prinsip latihan fisiologis, psikologis, dan biomekanika guna meningkatkan kecepatan, kekuatan otot tungkai, power, daya tahan, serta mengurangi kejenuhan latihan,” terangnya.
Dampak penelitian Turi tak main-main: karya ilmiahnya berhasil menembus empat jurnal internasional bereputasi (Q1, Q3, dan Q4) dan menghasilkan 17 Paper Konferensi, 1 Buku ber-ISBN, serta 6 Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Turi membagikan tips di balik kesuksesan perjalanan studinya. Pertama, menentukan tujuan belajar yang bermakna, bukan sekadar mengejar nilai, tetapi membangun kontribusi. Kedua, konsisten dan sabar dalam proses. Ketiga, tidak takut gagal. Sebab, setiap kegagalan adalah latihan menuju kesuksesan.
Keempat, membangun hubungan baik dengan dosen dan teman, karena dukungan mereka sangat penting. Dan, yang terakhir, selalu berdoa dan percaya bahwa latar belakang keluarga bukan menjadi penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik.][
***
Reporter: Azhar (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: