
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Selain pemecahan rekor MURI, rangkaian Festival Mobilitas Akademik Mahasiswa 2026 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Direktorat Pendidikan dan Transformasi Pembelajaran (DPTP) juga menghadirkan Seminar Nasional bertajuk “Mobilitas Akademik Berdampak dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045: Sinergi Kebijakan, Implementasi, dan Dampak Nyata” pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dyah Sawitri (Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur), Kieron Sheehy (Profesor The Open University, Inggris), serta Shahrin bin Hasyim (Akademisi Universiti Teknologi Malaysia). Agenda ini menjadi wujud komitmen nyata Unesa dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap dinamika global.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa mobilitas akademik adalah wadah bagi mahasiswa untuk mengasah passion sekaligus meningkatkan nilai tambah diri. Ia mendorong agar 11.524 karya inovatif yang telah meraih rekor MURI tersebut dikonversi menjadi tugas akhir atau artikel ilmiah.

www.unesa.ac.id
"Mahasiswa diharapkan dapat mengangkat karya inovasi hasil mobilitas ini agar dapat lulus tepat waktu dalam tujuh atau delapan semester dengan kualitas yang mumpuni," harap Martadi.
Senada dengan hal tersebut, Direktur DPTP Unesa, Rooselyna Ekawati, melaporkan bahwa seminar ini berfokus pada penguatan best practice mobilitas akademik. Forum ini diharapkan menjadi ekosistem strategis untuk berbagi gagasan dan riset yang membentuk pembelajaran transformatif.
Sesi materi diawali oleh Dyah Sawitri yang mengupas strategi mewujudkan lulusan berdaya saing global untuk Indonesia Emas 2045. Ia mengingatkan bahwa kunci keberhasilan di masa depan adalah adaptabilitas.

www.unesa.ac.id
“Mereka yang bertahan bukanlah yang terkuat, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan,” tegasnya.
Sementara itu, Kieron Sheehy melalui topik “Moving Beyond Traditional Practices” menyoroti pentingnya relevansi studi dengan dampak dunia nyata.
Ia membedakan inisiatif mobilitas di Indonesia yang didorong kebijakan pemerintah dengan di Eropa yang lebih berbasis inisiatif universitas, sembari menekankan bahwa setiap mobilitas harus berorientasi pada kepedulian sosial.
Menutup rangkaian diskusi, Shahrin bin Hasyim memaparkan potensi International Community Based Learning Program. Ia mendorong mahasiswa untuk memiliki profil “Global Mindset, Local Impact” serta menghasilkan inovasi yang memiliki nilai kewirausahaan agar program yang dijalankan dapat berkelanjutan.
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: