
Valencia Imelda Tanessa jatuh hati pada psikologi sejak SMA, yang membawanya hingga menjadi wisudawan terbaik Unesa.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Rona bahagia terpancar dari wajah Valencia Imelda Tanessa. Betapa tidak, mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu berhasil menjadi wisudawan terbaik pada gelaran wisuda periode ke-115 dengan IPK 3,94.
Mahasiswi asal Probolinggo itu berbagi cerita mengenai perjalanannya kuliah hingga berhasil meraih predikat adiwisudawan Unesa. Perjalanan akademiknya bukan hanya tentang angka-angka, tetapi juga tentang tekad, konsistensi, dan keinginan tulus untuk memahami manusia.
Sejak duduk di bangku SMA Negeri 1 Kraksaan, Valencia sudah jatuh hati pada psikologi. Semua itu bermula dari rasa ingin tahu yang begitu besar tentang apa yang membuat seseorang berpikir dan bertindak, bagaimana manusia bisa memahami dirinya, dan bagaimana manusia bisa membantu orang lain.
“Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong saya memantapkan langkah ke Prodi Psikologi Unesa. Selain karena psikologi memang jurusan impian saya sejak SMA. Dari sinilah saya bisa belajar memahami diri sendiri sekaligus membantu orang lain,” tuturnya.
Di antara banyak cabang ilmu psikologi, Valencia memilih fokus pada Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Baginya, dunia kerja adalah ruang yang kompleks dan penuh dinamika. Motivasi, kinerja, hingga kesejahteraan karyawan bisa saling terkait.
Kesuksesan Valencia tentu tidak berdiri sendiri. Ada doa dan dukungan orang tua yang menjadi fondasi kokoh. Dari keduanya, Valencia belajar tentang tanggung jawab, kerja keras, dan ketulusan. Selain itu, dukungan dari oma (nenek) yang selalu setia mendoakan dan memberi semangat menjadi tambahan energi.
“Tanpa orang tua dan Oma, saya tidak mungkin bisa berada di titik ini,” ucapnya dengan mata berbinar.
Untuk tugas akhir, Valencia menulis skripsi berjudul “Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Work-Life Balance pada Karyawan di PT X”. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa karyawan dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung memiliki work-life balance lebih baik.
Temuan ini penting, bukan hanya bagi pengembangan ilmu Psikologi, tetapi juga bagi perusahaan yang ingin mendukung kesejahteraan karyawannya. “Psikologi bukan hanya teori, tapi bisa jadi solusi nyata di dunia kerja,” tegasnya.
Valencia juga aktif menulis. Salah satunya lewat esai berjudul “5L to Forgive: Urgensi Meningkatkan Resiliensi dalam Menyikapi Perilaku Ghosting.” Esai itu membawanya hingga tahap finalis lomba esai mahasiswa. Ia mengatakan, keberhasilan bukan sekadar hasil akhir, tetapi juga keberanian untuk mencoba, proses belajar, dan kesempatan memperluas perspektif.
Selain itu, lewat pengalaman magang di PT Lotte Mart dan PT Mitra Kerja Utama, Valencia juga mendapatkan banyak pelajaran, terutama menerjemahkan teori ke dalam praktik nyata.
Dari menyeleksi CV, mengundang kandidat, hingga duduk berhadapan dalam sesi wawancara, ia menyaksikan bagaimana psikologi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari. “Psikologi bukan sekadar teori. Selama ada interaksi dengan manusia, di situlah psikologi berperan,” ujarnya.
Selain akademik, Valencia juga aktif di komunitas Satu Persen Jawa Timur. Baginya, pengalaman ini berharga karena ia bisa langsung memberi edukasi tentang kesehatan mental kepada masyarakat.
“Saya belajar bahwa psikologi bisa berdampak nyata pada kehidupan orang lain. Itu sangat berarti bagi saya,” katanya.
Bagi Valencia, kunci kesuksesannya sederhana, tetapi tidak mudah, yaitu konsistensi dan manajemen waktu. Ia selalu berusaha menghindari menunda tugas dan membiasakan membuat skala prioritas. ][
***
Reporter: Prismacintya (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Dok Valencia
Share It On: