
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA---Program Studi S-1 Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menggelar pementasan Teater Tradisi berupa ketoprak berjudul Jaka Tarub lan 7 Widodari di Graha Sawunggaling, Kampus II Lidah Wetan, Minggu, 4 Januari 2026.
Pementasan ini mengangkat kisah klasik Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari Nawang Wulan. Cerita legendaris tersebut dikemas dengan gaya ketoprak yang komunikatif, penuh komedi, sekaligus sarat pesan moral tentang kejujuran dan keikhlasan. Selama hampir dua jam pertunjukan berlangsung, penonton tampak menikmati jalannya cerita yang diwarnai gelak tawa di berbagai adegan.
Selain menjadi tontonan terbuka, pementasan ini merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Teater Tradisional bagi mahasiswa angkatan 2024 kelas Sendratasik ABC. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan pemahaman teoretis ke dalam praktik seni pertunjukan secara utuh.
Dosen pengampu mata kuliah sekaligus pembimbing pementasan, Arif Hidajad, menyampaikan apresiasinya atas capaian mahasiswa. Menurutnya, meskipun ketoprak dimainkan oleh generasi muda, esensi dan roh teater tradisi tetap terasa kuat. Ia sengaja memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengemas ketoprak sesuai dengan konteks zaman mereka.
“Saya sangat bahagia. Walaupun dimainkan anak-anak muda, roh ketopraknya masih ada. Saya biarkan mereka berkreasi agar transmisi budaya ke generasi muda bisa berjalan, sehingga nilai-nilai seni tradisi tetap dipahami dan digemari di masa mendatang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa Sendratasik tidak asing dengan panggung seni tradisi di luar kampus. Sebelumnya, mereka pernah mementaskan ludruk di Taman Budaya hingga mendapat undangan ke Yogyakarta untuk membawakan ludruk dengan naskah-naskah lama. Menurutnya, transformasi seni tradisi adalah keniscayaan yang perlu disikapi secara bijak.

www.unesa.ac.id
“Bentuk-bentuk lama pasti akan bertransformasi menjadi bentuk baru. Itu harus diterima, tetapi akarnya tetap dijaga agar generasi muda tidak tercerabut dari budayanya. Nilai-nilai itulah yang membentuk karakter dan moral mereka,” jelasnya.
Sekitar 50 mahasiswa terlibat dalam keseluruhan proses produksi pementasan ini, mulai dari pemeran, pemusik, penata rias, tim properti, hingga kru panggung. Persiapan dilakukan selama kurang lebih satu semester dengan latihan intensif di sela perkuliahan. Pementasan ini disutradarai oleh Aldhi Teguh, Maharani Pradivta, dan Funta Erza.
Aldhi Teguh menjelaskan bahwa pementasan tetap berpijak pada pakem ketoprak, namun diberi sentuhan komedi yang lebih segar agar dekat dengan generasi muda. Alur utama cerita tetap dipertahankan, meski ada penambahan tokoh untuk memberi ruang tampil bagi lebih banyak pemain.
“Secara garis besar ceritanya tetap sama. Kami menambahkan beberapa tokoh seperti Kijang atau Dukun agar teman-teman yang tidak ada di naskah asli tetap mendapat kesempatan tampil,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu adegan paling berkesan baginya adalah adegan setelah Gambyong, yang menjadi tantangan tersendiri karena merupakan pengalaman pertama menggarap ketoprak secara serius. “Waktu itu benar-benar baru dan cukup bikin pusing, tapi justru di situ proses belajarnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana pementasan, Mohammad Dzaky Arif, menuturkan bahwa kegiatan ini tidak semata-mata untuk memenuhi tuntutan akademik, tetapi juga sebagai bekal pengalaman profesional bagi mahasiswa seni pertunjukan.
“Ini soal pengalaman. Ketika nanti lulus, kami akan membawa dan memperkenalkan kesenian Indonesia. Maka, pemahaman dan praktik seni tradisi menjadi bekal yang sangat penting,” ujarnya.
Ia juga berpesan bahwa dunia seni menuntut totalitas. “Di seni pertunjukan, kita tidak hanya belajar tampil di atas panggung, tetapi juga memahami peran sebagai penonton dan bekerja di balik layar. Semua itu bagian dari proses menjadi seniman,” pungkasnya. ][
***
Reporter: Dava Yessy Marshela (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: