
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA— Indonesia Future Leaders Camp (FLC) Regional IV diselenggarakan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 19–20 November 2025. Kegiatan yang menghimpun 60 delegasi organisasi mahasiswa ini menjadi rangkaian setelah pelaksanaan sebelumnya di Bandung, Padang, dan Makassar.
Acara yang berlangsung di Rektorat Unesa Kampus II Lidah Wetan ini menghadirkan para pembicara dari berbagai sektor: Emil Elestianto Dardak (Wakil Gubernur Jawa Timur), Astri Wahyuni (Director of Corporate Affairs ParagonCorp), Rizky Arief Dwi Prakoso (CEO & Founder HMNS), Imam Santoso (Dosen ITB & Content Creator), serta delegasi-lembaga dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Wakil Rektor III Unesa, Bambang Sigit Widodo, menyambut para peserta dan menegaskan bahwa FLC bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, aktivitas ini menjadi ruang pembentukan karakter kepemimpinan yang menuntut keberanian dalam mengambil keputusan.
Ia juga mendorong peserta untuk keluar dari zona nyaman dan memperluas kapasitas diri. Pemimpin, ujarnya, lahir dari keberanian menantang diri, membangun relasi strategis, dan menyumbangkan gagasan bagi kepentingan masyarakat luas.

www.unesa.ac.id
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menyampaikan bahwa FLC merupakan bentuk komitmen negara dalam mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Kegiatan ini memperkenalkan pola pikir kepemimpinan berdampak dari berbagai sektor—politik, kewirausahaan, industri, komunitas, akademisi, dan penelitian.
Menurutnya, pendekatan lintas sektor ini menunjukkan bahwa setiap peserta bisa berkontribusi melalui jalur yang paling sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya masing-masing.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan membuka forum tersebut dengan menegaskan bahwa mahasiswa hari ini harus menjadi pemimpin di masa depan. Ia menekankan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 bergantung pada pola pikir kepemimpinan yang positif.
Ia juga menyampaikan filosofi lagu Gundul Gundul Pacul sebagai refleksi. Baginya, pemimpin yang tidak melihat penderitaan rakyat adalah pemimpin yang buta; pemimpin yang tidak mendengar keluhan rakyat adalah pemimpin yang tuli; dan pemimpin yang kehilangan empati akan kehilangan arah.

www.unesa.ac.id
Dari sektor industri, Astri Wahyuni memaparkan bahwa kepemimpinan tidak bergantung pada posisi, tetapi pada pengaruh yang dibangun melalui kepercayaan, kejelasan, dan konsistensi. Ia menjelaskan bahwa ParagonCorp menerapkan kepemimpinan terdistribusi melalui empowerment sehingga setiap karyawan mendapat ruang untuk mengambil keputusan dan berinovasi.
Ia menambahkan bahwa sinergi para pemimpin mendorong terbentuknya collective leadership dan super team, yang memungkinkan perusahaan bergerak menuju tujuan bersama antara individu dan institusi.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menjelaskan mengenai fenomena politik post-truth di mana emosi dan narasi buatan sering lebih dipercaya daripada fakta. Menurutnya, kondisi ini mendorong penyebaran hoaks, penurunan kepercayaan publik, dan menjadi ancaman bagi demokrasi.
Ia menekankan bahwa generasi muda harus melek politik, berpikiran terbuka, dan mampu mengolah informasi secara cepat dan akurat. Dengan cara itu, mahasiswa dapat menyikapi isu politik secara jernih, bijak, dan tetap beretika.
Melalui FLC Regional IV ini, peserta diharapkan memahami berbagai perspektif kepemimpinan, membaca dinamika perubahan, serta berani mengambil peran dalam memajukan Indonesia. ][
***
Reporter: Lina Lubabatul
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: