
Luluk Diana Tri Wijayana mahasiswa Unesa bersinar di panggung SEA Games 2025. Medali emas angkat besi yang ia persembahkan untuk Indonesia dicapai melalui disiplin dan perjuangan yang ‘berdarah-darah,’ bahkan sampai cidera.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Emas SEA Games XXXIII Thailand 2025 menjadi catatan sejarah paling emosional dalam perjalanan karier Luluk Diana Tri Wijayana. Mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 2024 ini sukses membuktikan ketangguhan mentalnya di panggung angkat besi Asia Tenggara, meski harus melewati rintangan cedera yang hampir memupuskan harapannya.
Lahir di Pacitan pada 9 Agustus 2005, Luluk telah akrab dengan barbel sejak duduk di kelas 6 sekolah dasar. Baginya, angkat besi bukan sekadar olahraga, melainkan ruang untuk menantang batas kemampuan fisik dan mentalnya.
Karakter disiplin yang terbentuk sejak dini inilah yang membawanya bertahan hingga level elite nasional. Namun, perjalanannya menuju Thailand tidaklah mulus. Hanya sepuluh hari sebelum bertolak ke pemusatan latihan di Jakarta, Luluk mengalami cedera kaki yang cukup serius.
Kondisi tersebut menjadi ujian mental yang berat bagi atlet muda ini. Di tengah rasa nyeri dan keraguan, Luluk memilih untuk patuh sepenuhnya pada program pemulihan yang disusun oleh sang pelatih, Samsuri. Kedisiplinan dalam menjaga kondisi dan kepercayaan diri akhirnya berbuah manis.
Saat turun di kelas 48 kilogram, Luluk tampil meyakinkan dengan catatan snatch 84 kilogram dan clean and jerk 100 kilogram. Angkatan tersebut tidak hanya mengamankan posisinya di puncak, tetapi juga membungkam rival kuat dari Thailand, Vietnam, dan Filipina.

www.unesa.ac.id
Momen paling mengharukan terjadi justru sesaat setelah Luluk menyelesaikan angkatan terakhirnya. Dalam kondisi lelah dan tegang, ia duduk di lantai dengan tubuh tertutup handuk dan jaket, menanti hasil angkatan atlet negara lain tanpa mengetahui posisi klasemennya.
Saat pelatihnya membangunkan dan berbisik bahwa ia berhasil mendapatkan medali, Luluk meledak dalam tangis haru. Uniknya, kepastian bahwa medali tersebut adalah emas baru ia ketahui sesaat sebelum menaiki podium. Isak tangis dan pelukan bersama tim pelatih pecah saat lagu Indonesia Raya berkumandang, menandakan kemenangan mutlak sang "Srikandi" asal Pacitan.
Bagi Luluk, medali emas ini bukan sekadar tambahan koleksi prestasi, melainkan sebuah bentuk pembuktian atas segala keraguan dan kegagalan yang pernah ia lalui. Ia menyebut kemenangan ini sebagai "balas dendam" positif terhadap proses sulit yang selama ini ia jalani.
Di balik kesuksesan tersebut, Luluk juga mengapresiasi dukungan Unesa yang memberikan fleksibilitas akademik. Kebijakan perkuliahan jarak jauh yang disesuaikan dengan jadwal latihan nasional membuatnya mampu menjalankan peran sebagai mahasiswa dan atlet dunia secara seimbang tanpa tekanan berlebih.
Kini, setelah menaklukkan Asia Tenggara, Luluk Diana menatap cakrawala yang lebih luas. Target besarnya sudah terpancang jelas: Olimpiade Los Angeles 2028. Menutup kisahnya, ia berpesan kepada sesama mahasiswa Unesa agar tidak pernah menyerah pada proses sesulit apa pun. Ia meyakini bahwa kesabaran dalam menghadapi kegagalan adalah jembatan menuju hasil yang indah di masa depan.][
***
Reporter: Ja’far (FIP)
Editor: @zam*
Dok: Luluk Diana Tri Wijayana
Share It On: