Rilis Laboratorium Cybermetrics tentang peringkat web perguruan tinggi sedunia patut menjadi bahan refleksi bagi Unesa untuk memperbaiki diri. Webometrics pada tengah tahun 2014 ini merilis bahwa web Unesa turun peringkat dibandingkan dengan rilis pada awal tahun 2014 lalu. Penurunan itu terlihat pada peringkatnya yang menyusut dari peringkat 3.244 menjadi 3.495 di antara 22.000 perguruan tinggi sedunia. Kondisi itu otomatis berpengaruh pada peringkat sekup kawasan.
Di antara 7.387 perguruan tinggi se-Asia Pasifik, Unesa turun tangga dari peringkat 1.167 menjadi 1.202. Di kawasan ASEAN pun Unesa turun 5 angka yakni dari peringkat 128 ke 133 di antara 1.175 perguruan tinggi se-Asia Tenggara. Di tataran nasional. Unesa turun 9 anak tangga yakni dari peringkat 37 menjadi 46 di antara 401 perguruan tinggi se-Indonesia.
Meski demikian, Unesa masih termasuk dalam 15% perguruan tinggi terbaik sedunia. Di kawasan Asia Pasifik, Unesa termasuk 16% perguruan tinggi terbaik. Di tataran ASEAN, Unesa termasuk dalam 11% perguruan tinggi terbaik sedangkan di tingkat nasional Unesa masuk dalam 11% perguruan tinggi yang diunggulkan. Dalam sistem pemeringkatan ini, Unesa harus mengakui keunggulan empat Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) lain seperti UPI (Bandung), Unnes (Semarang), UM (Malang), UNY (Yogyakarta).
Dua indikator yang harus terus menjadi perhatian sebagai bahan perbaikan adalah indikator impact, yakni indikator rekomendasi seseorang/pengunjung terhadap web Unesa sebagai web rujukan dalam sebuah tautan dan/atau web. Indikator ini sekarang menunjukkan peringkat ke-7111, sebelumnya peringkat 6.193. Untuk menguatkan indikator impact yang memiliki porsi penilaian 50% dari persentase keseluruhan indikator penilaian tersebut, pemanfaatan aplikasi web atau blog seperti blogspot, multiply, blogger, dan lain-lain sebagai media pembelajaran yang kemudian memberi tautan www.unesa.ac.id pada aplikasi web/blog tersebut dapat menguatkan peringkat impact web Unesa.
Indikator excellence pun perlu banyak mendapat perhatian. Melorotnya indikator ini dipengaruhi belum banyaknya karya ilmiah civitas akademika yang terindeks oleh Scimago/Scopus. Sekarang, indikator penilaian ini menunjukkan angka peringkat ke-5442, sebelumnya peringkat 5.155. Indikator excellence ini memiliki porsi penilaian 15% dari persentase keseluruhan penilaian dalam sistem pemeringkatan webometrics. Karena itu, diharapkan dosen dan mahasiswa selalu memutakhirkan publikasi jurnal ilmiahnya ke dalam web Unesa melalui subdomain cv.unesa.ac.id, ejournal.unesa.ac.id, elearning.unesa.ac.id, dan blog.unesa.ac.id.
Indikator lainnya dalam sistem pemeringkatan webometrics adalah presence (volume konten global yang terindeks Google) memiliki bobot 20% yang kini berada pada peringkat ke-1068, sebelumnya 634 sedangkan openness (jumlah kekayaan berkas dalam bentuk pdf, doc, docs, dan ppt yang terindeks di google scholar) berada pada peringkat ke-303, sebelumnya peringkat 284. Indikator ini memiliki bobot 15%. Empat indikator penilaian tersebut merepresentasikan kualitas web berbasis konten. Jadi kurang tepat jika sistem pemeringkatan webomterics ini dianggap lebih menitikberatkan penilaiannya dari segi popularitas kunjungan web. (Byu)
Di antara 7.387 perguruan tinggi se-Asia Pasifik, Unesa turun tangga dari peringkat 1.167 menjadi 1.202. Di kawasan ASEAN pun Unesa turun 5 angka yakni dari peringkat 128 ke 133 di antara 1.175 perguruan tinggi se-Asia Tenggara. Di tataran nasional. Unesa turun 9 anak tangga yakni dari peringkat 37 menjadi 46 di antara 401 perguruan tinggi se-Indonesia.
Meski demikian, Unesa masih termasuk dalam 15% perguruan tinggi terbaik sedunia. Di kawasan Asia Pasifik, Unesa termasuk 16% perguruan tinggi terbaik. Di tataran ASEAN, Unesa termasuk dalam 11% perguruan tinggi terbaik sedangkan di tingkat nasional Unesa masuk dalam 11% perguruan tinggi yang diunggulkan. Dalam sistem pemeringkatan ini, Unesa harus mengakui keunggulan empat Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) lain seperti UPI (Bandung), Unnes (Semarang), UM (Malang), UNY (Yogyakarta).
Dua indikator yang harus terus menjadi perhatian sebagai bahan perbaikan adalah indikator impact, yakni indikator rekomendasi seseorang/pengunjung terhadap web Unesa sebagai web rujukan dalam sebuah tautan dan/atau web. Indikator ini sekarang menunjukkan peringkat ke-7111, sebelumnya peringkat 6.193. Untuk menguatkan indikator impact yang memiliki porsi penilaian 50% dari persentase keseluruhan indikator penilaian tersebut, pemanfaatan aplikasi web atau blog seperti blogspot, multiply, blogger, dan lain-lain sebagai media pembelajaran yang kemudian memberi tautan www.unesa.ac.id pada aplikasi web/blog tersebut dapat menguatkan peringkat impact web Unesa.
Indikator excellence pun perlu banyak mendapat perhatian. Melorotnya indikator ini dipengaruhi belum banyaknya karya ilmiah civitas akademika yang terindeks oleh Scimago/Scopus. Sekarang, indikator penilaian ini menunjukkan angka peringkat ke-5442, sebelumnya peringkat 5.155. Indikator excellence ini memiliki porsi penilaian 15% dari persentase keseluruhan penilaian dalam sistem pemeringkatan webometrics. Karena itu, diharapkan dosen dan mahasiswa selalu memutakhirkan publikasi jurnal ilmiahnya ke dalam web Unesa melalui subdomain cv.unesa.ac.id, ejournal.unesa.ac.id, elearning.unesa.ac.id, dan blog.unesa.ac.id.
Indikator lainnya dalam sistem pemeringkatan webometrics adalah presence (volume konten global yang terindeks Google) memiliki bobot 20% yang kini berada pada peringkat ke-1068, sebelumnya 634 sedangkan openness (jumlah kekayaan berkas dalam bentuk pdf, doc, docs, dan ppt yang terindeks di google scholar) berada pada peringkat ke-303, sebelumnya peringkat 284. Indikator ini memiliki bobot 15%. Empat indikator penilaian tersebut merepresentasikan kualitas web berbasis konten. Jadi kurang tepat jika sistem pemeringkatan webomterics ini dianggap lebih menitikberatkan penilaiannya dari segi popularitas kunjungan web. (Byu)
Share It On: