
Bedah Buku Rembugan Buku Ludruk Ilmu Ngglethek: Jula-Juli Kartolo dan Opo Jare Tekek: Sastra Jula-Juli Karya Sindhunata di Graha Sawunggaling.
Unesa.ac.id, SURABAYA—Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) gelar Festival Sastra Jawa pada Minggu, 28 September 2025 di Gedung Pertunjukan Sawunggaling, Kampus 2 Lidah Wetan. Kegiatan ini menampilkan serangkaian kegiatan menarik mulai dari bedah buku hingga Pagelaran Ludruk Bharada Unesa.
Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan bedah buku “Rembugan Buku Ludruk Ilmu Ngglethek: Jula-Juli Kartolo dan Opo Jare Tekek: Sastra Jula-Juli Karya Sindhunata,” dilanjutkan dengan pertunjukan ludruk dengan Lakon Babad Surabaya yang dibuka dengan iringan Tari Remo dan Tari Bedhayan.
Dekan FBS Unesa, Syafi’ul Anam, menyampaikan bahwa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa memiliki peran yang sangat krusial untuk terus menguatkan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Ia mengungkapkan kekhawatiran besar bahwa bahasa Jawa akan menjadi vanishing language atau bahasa yang semakin luntur dan hilang.
Kekhawatiran itu, menurutnya, bukan sekadar ketakutan biasa, karena realitasnya banyak kalangan keluarga muda di perkotaan sekarang cenderung menggunakan bahasa Indonesia dan tidak lagi menggunakan bahasa Jawa.
"Dan tentu ini ke depan menjadi alarm bagi kita. Oleh karena itu, menjadi PR juga bagi teman-teman di sini khususnya dari teman-teman di Bahasa Jawa dengan kita terus menguatkan eksistensi di Bahasa Jawa termasuk budayanya salah satunya adalah Ludruk itu sendiri,” tegasnya.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membangkitkan spirit budaya Jawa yang mewarnai etalase kehidupan generasi muda bangsa.
Pada sesi bedah buku, Gabriel Possenti Sindhunata atau yang lebih dikenal Romo Sindhu menjelaskan bahwa bukunya merupakan kumpulan kisah perjalanannya sebagai jurnalis Kompas, yang di dalamnya terdapat bab feature yang secara khusus membahas ludruk.
Romo Sindhu menekankan bahwa ia mentranskrip dan meneliti ludruk Jula-Juli Kartolo dari sudut pandang sastra Jawa untuk menunjukkan bahwa ludruk bukan sekadar seni, melainkan memiliki nilai sastra yang penting sebagai sumbangsih penelitian bagi mahasiswa.
Romo Sindhu menjelaskan bahwa ludruk adalah teater yang mengolah emosi, pergulatan, penderitaan, dan perlawanan wong cilik atau rakyat biasa pada zamannya.
Bahkan, pada lakon klasik sekali pun, ludruk selalu bisa menyematkan tema-tema perlawanan yang dialami rakyat dalam kesehariannya. Kesan tentang ludruk yang demikianlah, menurutnya, yang selalu menginspirasi perjalanan kepenulisannya.

Dekan FBS, Syafi\'ul Anam memberikan penghargaan kepada narasumber, Abah Kirun
Romo Sindhu, yang merupakan seorang Imam Katolik dari ordo Serikat Yesus (Yesuit), juga berbagi kisah pertemuannya dengan Gus Dur saat ia tengah menjelaskan bahwa agama Islam tidak berlawanan atau bertentangan dengan kesenian ludruk. Ia mengenang bagaimana saat itu Jombang menjadi pusat ludruk di Jawa Timur.
Meski kini lama bermukim di Yogyakarta, warna masa kecilnya di Kota Batu dan Malang yang gemar menonton ludruk tidak luntur, bahkan semakin menguat. Hal ini terlihat dari kebiasaannya melengkapi pengantar catatan kurasi di Bentara Budaya Yogyakarta dengan untaian sastra jula-juli yang ia gubah secara lengkap tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup. Romo Sindhu menutup penjelasannya dengan menyatakan,
“Bukan cuma dinikmati orang Jawa Timur, jula-juli ini sudah menasional sejak dipopulerkan dalam irama hip hop oleh JHF, Jogja Hip Hop Foundation,” jelasnya.
Di sisi lain dalam kegiatan bedah buku, fakta-fakta, sejarah dan perjalanan ludruk ikut diungkapkan oleh Muhammad Syakirun, salah satu pelawak profesional yang kondang di dunia ludruk Indonesia. Pria yang akrab disapa Abah Kirun itu menjelaskan bagaimana ludruk di setiap daerah menjadi berbeda-beda dan memiliki ciri khas sendiri, baik dari segi cerita maupun syair-syair yang dinyanyikan oleh sinden.
"Ciri khas ludruk di setiap daerah itu untuk menyesuaikan dengan isu-isu yang ada di lingkungan tersebut, yang kemudian dikemas lewat banyolan-banyolan maupun pesan moral dalam ludruk. Hal ini sesuai dengan inti dari ludruk yang merupakan seni masa," ujar pelawak yang juga Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu.
Pada puncak kegiatan Festival Sastra Jawa, rangkaian agenda ditutup dengan pertunjukan Tari Remo, Tari Bedhayan dan Pagelaran Ludruk yang sukses menghibur audiens. [ ]
***
Reporter: Rosvelia Anggita Putri Ananta (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: