Tidak mau ketinggalan atas perkembangan pembelajaran yang berkembang pesat selama ini, semua dosen Jurusan Seni Rupa dan Desain Grafis ikuti pelatihan pembelajaran berbasis mahasiswa. Rabu, 18 Juli 2012, di Ruang Kelas Jurusan Seni Rupa, mereka membedah paradigma pembelajaran ke depan yang dipandu oleh Drs. Martadi, M.Sn., dosen seni rupa. Kemudian, sejarah metode pembelajaran sampai pada metode terkini dan penerapannya dipandu oleh Dr. Suyatno, M.Pd., dosen bahasa Indonesia. Acara diawali dengan sambutan tentang pentingnya dosen terus berubah dan berkembang yang disampaikan oleh ketua Jurusan Seni Rupa, Dr. Djulijati P, M.Sn.
"Perkembangan teknologi yang begitu pesat membawa dampak pada pembelajaran yang harus berbasis teknologi informasi," ujar Pak Martadi. Untuk itu, mau tidak mau, dosen harus menggunakan teknologi informasi untuk layanan kepada mahasiswa. Salah satu model pembelajaran yang tepat adalah model Student Centered Learning (SCL).
"Metode pembelajaran itu bersifat praktis, kontekstual, dan operasional," ujar Suyatno. Dosen dapat menciptakan metode sendiri asalkan dapat dipertanggungjawabkan sintaks dan prosedur yang dilaksanakannya. "Semua metode baik asalkan dapat membantu untuk ketercapaian tujuan perkuliahan. Lalu, metode apapun akan buruk jika tidak dapat membantu perkuliahan dalam mencapai tujuan," tambah Suyatno.
Para dosen akan menindaklanjuti pelatihan ini dengan aksi nyata berupa rencana perkuliahan yang cocok dengan kondisi siswa, tujuan, konteks, dan bahan yang tersedia. "Teman-teman dosen akan terus meningkatkan kualitas di sela-sela mengajarnya," ujar Pak Djulijati. Mereka tidak ingin ketinggalan informasi dan aksi bermanfaat. (syt).
"Perkembangan teknologi yang begitu pesat membawa dampak pada pembelajaran yang harus berbasis teknologi informasi," ujar Pak Martadi. Untuk itu, mau tidak mau, dosen harus menggunakan teknologi informasi untuk layanan kepada mahasiswa. Salah satu model pembelajaran yang tepat adalah model Student Centered Learning (SCL).
"Metode pembelajaran itu bersifat praktis, kontekstual, dan operasional," ujar Suyatno. Dosen dapat menciptakan metode sendiri asalkan dapat dipertanggungjawabkan sintaks dan prosedur yang dilaksanakannya. "Semua metode baik asalkan dapat membantu untuk ketercapaian tujuan perkuliahan. Lalu, metode apapun akan buruk jika tidak dapat membantu perkuliahan dalam mencapai tujuan," tambah Suyatno.
Para dosen akan menindaklanjuti pelatihan ini dengan aksi nyata berupa rencana perkuliahan yang cocok dengan kondisi siswa, tujuan, konteks, dan bahan yang tersedia. "Teman-teman dosen akan terus meningkatkan kualitas di sela-sela mengajarnya," ujar Pak Djulijati. Mereka tidak ingin ketinggalan informasi dan aksi bermanfaat. (syt).
Share It On: