
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA – Subdirektorat Pembukaan dan Penutupan Program Studi, Direktorat Pendidikan dan Transformasi Pendidikan (DPTP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggandeng Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) dalam Workshop Penguatan Kelembagaan, Roadmap Pengembangan, dan Pengaturan Nomenklatur Program Studi pada Jumat, 13 Februari 2026 di Gedung Rektorat Kampus 2 Lidah Wetan.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat tata kelola pembukaan, perubahan nama, serta pengembangan prodi agar selaras dengan kebutuhan industri, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi, menyampaikan bahwa pengembangan prodi harus mempertimbangkan prospek kerja dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Ia mencontohkan sejumlah prodi dengan peluang besar di bidang olahraga terapan dan layanan kesehatan berbasis kebugaran yang memiliki potensi wirausaha tinggi, termasuk pembukaan klinik mandiri.

www.unesa.ac.id
Menurutnya, tren prodi aplikatif dan digital juga mengalami peningkatan signifikan, terbukti dari tingginya minat mahasiswa pada bidang bisnis digital dan teknologi terapan. Martadi menambahkan bahwa pertumbuhan jumlah pendaftar Unesa menunjukkan tren positif dalam tiga tahun terakhir.
Selain peningkatan peminat, universitas juga berupaya memperluas akses melalui pemberian beasiswa dalam jumlah besar. Ia menekankan pentingnya panduan dari Belmawa terkait persyaratan pembukaan maupun perubahan prodi, termasuk analisis kebutuhan pasar, kesiapan dokumen, dan perencanaan pendanaan.
“Kami ingin memastikan setiap prodi yang dibuka atau diubah benar-benar relevan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua Tim Pembelajaran/Analis Kebijakan Ahli Madya Belmawa, Dewi Wulandari, memaparkan strategi pengembangan program studi. Ia menjelaskan bahwa perubahan nama dan isi prodi harus didasarkan pada kebutuhan industri, perkembangan ilmu pengetahuan, serta relevansi global.
Lulusan diharapkan mampu bersaing di pasar kerja nasional dan internasional melalui penguatan kurikulum multidisiplin dan transdisiplin. Ia juga menampilkan slide strategi pengembangan prodi yang menekankan relevansi industri, penyerapan lulusan, penguatan basis data nasional, serta dinamika pembaruan kurikulum sesuai perkembangan profesi.

www.unesa.ac.id
Ia menegaskan bahwa perubahan nomenklatur tidak memengaruhi status akreditasi selama capaian pembelajaran utama tetap sama minimal 70 persen. Proses pengajuan melibatkan verifikasi dokumen, rekomendasi asosiasi profesi, serta kesesuaian dengan regulasi nasional.
Ia juga menguraikan perjalanan regulasi penamaan prodi yang terus diperbarui sejak 2007 hingga 2025 sebagai upaya menyesuaikan kebutuhan pendidikan tinggi dengan perkembangan teknologi dan industri.
Sementara itu, Tim Evaluator Usulan Penamaan Prodi Belmawa, Hudiyo Firmanto, menyoroti berbagai kasus perubahan nama prodi yang berdampak pada peluang kerja lulusan, terutama pada formasi ASN.
Ia menegaskan pentingnya kesesuaian nomenklatur dengan daftar resmi nasional agar lulusan tidak mengalami hambatan administratif. “Evaluasi utama berfokus pada kesamaan capaian pembelajaran, bukan sekadar nama atau kurikulum,” jelasnya.
Workshop ini diharapkan mampu membantu perguruan tinggi menyusun roadmap pengembangan prodi secara strategis dan adaptif. Unesa menargetkan pengembangan prodi yang responsif terhadap perubahan industri sekaligus menjaga kualitas lulusan agar tetap kompetitif di tingkat global. []
***
Reporter: Puput
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: