
Unesa.ac.id., SURABAYA—Penguatan pendidikan inklusif di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tidak berhenti pada peningkatan kapasitas dosen. Sebanyak 20 dosen disiapkan menjadi trainer yang akan ‘mendesiminasikan’ pengetahuan tentang pembelajaran inklusif kepada mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) hingga guru di sekolah.
Langkah tersebut dilakukan melalui Training of Trainers (ToT) Modul Penguatan Pembelajaran Inklusif (PI) bertema “Mewujudkan Pembelajaran yang Inklusif, Setara, dan Ramah bagi Setiap Peserta Didik” yang digelar Unesa melalui Pusat Unggulan Iptek (PUI) Disabilitas bekerja sama dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), pada 10–11 Agustus 2026 di Gedung Rektorat Unesa, Kampus 2 Lidah Wetan.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengatakan penguatan kapasitas dosen diperlukan untuk memastikan pembelajaran mampu merespons keberagaman kebutuhan peserta didik, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas.
“Kalau dosen-dosen tidak dibekali wawasan disabilitas, pasti ada kendala. Ini membutuhkan knowledge dan kapasitas khusus bagi dosen tentang bagaimana mengelola keragaman dan memfasilitasi keragaman,” jelasnya.
Menurut Martadi, kapasitas tersebut penting karena Unesa setiap tahun menerima mahasiswa dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam. Karena itu, pemahaman mengenai pendidikan inklusif perlu menjadi bagian dari kapasitas pendidik, bukan hanya pengetahuan yang bersifat tambahan.

Lebih jauh, peserta ToT tidak diposisikan hanya sebagai penerima materi. Mereka dipersiapkan menjadi trainer yang dapat memperluas pemanfaatan modul pembelajaran inklusif, baik di lingkungan Unesa maupun melalui kegiatan yang menjangkau masyarakat.
Ketua PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto, menjelaskan para dosen tersebut nantinya dapat mengimbaskan materi kepada mahasiswa PPG yang sedang dipersiapkan menjadi guru profesional. Pengetahuan tersebut juga dapat diperluas kepada guru melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan kolaborasi dengan dinas pendidikan.
“Yang dilatih oleh tim INOVASI adalah dosen-dosen yang nantinya akan menjadi trainer. Trainer ini untuk melatih mahasiswa PPG maupun untuk pengabdian Unesa kepada masyarakat, terutama guru-guru,” jelas Budiyanto.
Dengan skema tersebut, penguatan kapasitas tidak berhenti pada 20 dosen yang mengikuti pelatihan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan bergerak dari dosen kepada calon guru, kemudian diterapkan dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Eni Martina, Inclusive Education Specialist Program INOVASI, menjelaskan pendidikan inklusif memiliki cakupan luas dan tidak terbatas pada isu disabilitas. Namun, dalam ToT kali ini, materi diarahkan pada penguatan pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas.
Materi mengacu pada modul dasar dan modul lanjut pelatihan berjenjang pendidikan inklusif yang dikembangkan dalam ekosistem Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Modul dasar menekankan penguatan konsep, sedangkan modul lanjut diarahkan pada penerapan konsep dalam pembelajaran di kelas.
Salah satu pendekatan yang diperkuat dalam pelatihan adalah Universal Design for Learning (UDL), yakni pendekatan yang mendorong perancangan pembelajaran sejak awal agar dapat mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik.
Bagi dosen PGSD Unesa, Hitta Alfi Muhimmah, pelatihan tersebut memberikan bekal yang tidak hanya relevan bagi pengembangan kompetensi pribadi, tetapi juga untuk diteruskan kepada calon guru.
“Kami mendapatkan tambahan ilmu terkait hal-hal baru, khususnya mengenai pendidikan inklusif. Kami juga mendapatkan pemahaman tentang bagaimana cara mengimbaskan ilmu tersebut kepada guru-guru, khususnya calon guru profesional,” tuturnya. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






