
Unesa.ac.id. SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat ekosistem jurnal ilmiah dengan mengarahkan pengelolaan jurnal pada standar internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan reputasi akademik dan visibilitas riset di tingkat global.
Strategi tersebut dibahas dalam penguatan Academic Reputation dan Employer Reputation serta Best Practice Journal terindeks Scopus yang berlangsung di Home Theater Rektorat Unesa, Kampus II Lidah Wetan, Jumat (14/8/2026).
Penguatan jurnal menjadi salah satu langkah yang ditempuh Unesa untuk memperkuat posisi akademik dan riset dalam komunitas internasional, termasuk dalam pemeringkatan perguruan tinggi global.
Wakil Rektor Unesa Bidang III, Bambang Sigit Widodo mengatakan, pengembangan jurnal menuju indeks global membutuhkan proses yang konsisten. Menurutnya, indeksasi bukan semata-mata persoalan pemeringkatan, tetapi berkaitan dengan kualitas dan kepercayaan terhadap publikasi ilmiah yang dihasilkan perguruan tinggi.
“Jurnal yang memang dirancang dengan standar dan indikator dari CSAB sehingga mulai dari diversity penulis, dari sitasi, dari kualitas artikel, dari diversity editorialnya, semuanya sudah terstandar ke arah yang Scopus. Di akhir 2026 atau 2027 sudah bisa di-submit,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Unesa telah merintis kebijakan pengembangan jurnal proyeksi Scopus sejak 2024. Jurnal-jurnal tersebut diarahkan untuk memenuhi sejumlah indikator yang diperlukan, mulai dari keberagaman penulis dan editor, kualitas artikel, hingga sitasi.
Pengembangan jurnal juga diarahkan agar selaras dengan bidang keunggulan Unesa, termasuk tema-tema yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Unesa memiliki keunggulan pada SDG-4 tentang pendidikan berkualitas, SDG-5 tentang kesetaraan gender, dan SDG-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
“Tema-tema yang ada di SDGs pasti relate dengan scope yang ada di jurnal. Mengingat SDGs dari 1 hingga 17, semuanya terkait dengan apa pun yang ada di dunia ini, termasuk pendidikan, lingkungan, kemiskinan lainnya,” jelasnya.
Penjelasan Wakil Rektor Bidang III ini selaras dengan yang disampaikan oleh Direktur Regional QS untuk Asia Pasifik, Mr. E Way Chong, pemeringkatan perguruan tinggi merupakan proses yang dinamis karena posisi sebuah universitas dipengaruhi oleh perkembangan perguruan tinggi lain.
“Pemeringkatan itu seperti maraton. Apakah Anda berada di posisi nomor satu atau nomor 1.000, itu juga dipengaruhi oleh pelari lainnya dan hasil yang mereka peroleh,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Unesa pada subjek pendidikan menunjukkan peluang yang masih terbuka untuk terus diperkuat. Ia menyebut peringkat Unesa pada bidang pendidikan berada di sekitar posisi 480–470 dunia dan mendekati posisi 450.
Sementara itu, narasumber lainnya, Aris Doyan, memaparkan langkah penguatan jurnal menuju indeks Scopus. Strategi tersebut dimulai dari audit kondisi jurnal, penguatan tata kelola dan kebijakan, serta perbaikan proses peer review dan kualitas artikel.
Tahapan berikutnya mencakup internasionalisasi editor, reviewer, dan penulis; penguatan website, DOI, dan metadata; menjaga regularitas dan integritas publikasi; hingga melakukan audit terhadap 14 kriteria CSAB sebelum jurnal diajukan untuk proses evaluasi menuju Scopus.][
***
Reporter: Medina Azzahra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






