
Unesa.ac.id, SURABAYA — Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan inklusif menjadi peluang untuk membantu guru memahami kebutuhan belajar peserta didik secara lebih tepat. Melalui teknologi berbasis AI, proses penyusunan strategi pembelajaran dapat dilakukan dengan dukungan analisis data yang lebih sistematis.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Khon Kaen University (KKU), Thailand, melalui Program Studi D4 Administrasi Publik, Fakultas Vokasi Unesa dan College of Public Affairs and Policy KKU, menyelesaikan rangkaian penelitian kolaboratif internasional melalui kegiatan diseminasi dan evaluasi prototipe Asisten Cerdas berbasis AI pada Juli 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan tim peneliti Indonesia dan Thailand serta menggandeng SMK Negeri 4 Surabaya dan SMA Negeri 8 Surabaya sebagai mitra kolaborator.
Penelitian ini menghasilkan dua publikasi ilmiah pada jurnal internasional terindeks Scopus Quartile 1 (Q1) serta sebuah prototipe Asisten Cerdas berbasis AI yang dirancang untuk mendukung guru, orang tua, dan siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi.

Prototipe tersebut berfungsi sebagai decision support tool yang membantu mengelola informasi peserta didik, menganalisis kebutuhan individual, serta memberikan rekomendasi dalam perencanaan pembelajaran, termasuk penyusunan Individualized Education Plan (IEP). Sistem ini dikembangkan sebagai instrumen pendukung bagi guru dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih terstruktur.
Kehadiran teknologi tersebut diarahkan untuk memperkuat peran guru dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik. AI dalam sistem ini tidak menggantikan peran tenaga pendidik, melainkan membantu proses identifikasi kebutuhan dan perencanaan pembelajaran agar lebih efektif.
Dalam proses pengembangan, sekolah mitra dilibatkan secara langsung sebagai evaluator pengguna. SMK Negeri 4 Surabaya dan SMA Negeri 8 Surabaya masing-masing mengirimkan tiga guru untuk mencoba prototipe dari berbagai perspektif pengguna.

Guru memberikan masukan terkait kemudahan penggunaan, relevansi fitur, kualitas rekomendasi AI, serta kebutuhan pengembangan sistem.
Keterlibatan praktisi pendidikan menjadi bagian penting dalam memastikan teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kondisi nyata di sekolah. Evaluasi tersebut menjadi dasar bagi tim peneliti untuk melakukan penyempurnaan prototipe sebelum diterapkan dalam cakupan pendidikan inklusif yang lebih luas.
Kolaborasi Unesa dan KKU ini diharapkan berlanjut pada tahap penelitian dan pengembangan berikutnya. Penyempurnaan sistem berbasis masukan pengguna menjadi langkah strategis agar inovasi tersebut dapat berkembang menjadi teknologi yang aplikatif dan memberikan manfaat bagi sekolah inklusi. [ Humas Unesa]






