
Unesa.ac.id, SURABAYA - Suasana Auditorium T2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Minggu (14/6) terasa berbeda. Bukan perkuliahan biasa, melainkan panggung kecil yang menjelma menjadi berbagai dunia: dari ruang keluarga yang mencekam, pedesaan Skotlandia pasca-perang, hingga kamar remaja yang penuh tekanan.
Sebanyak 12 drama berbahasa Inggris dipentaskan oleh mahasiswa S1 Sastra Inggris FBS Unesa angkatan 2024 sebagai tugas akhir mata kuliah Drama and Performance. Keduabelas drama tersebut adalah: The Game, Why Cupid Came, Mine Eyes Have Seen, A Long Ago, An Irish Engagement, Campbell of Kilmohr, He Said & She Said, Trifles, Scuba Lessons, The Intruder, The Judgement of Paris, dan Clothes for their Souls.
Pementasan ini sengaja membatasi jumlah penonton secara langsung. Tujuannya, untuk mengoptimalkan proses perekaman yang nantinya akan diunggah ke kanal media sosial. Meski begitu, auditorium T2 tetap padat oleh audiens yang terdiri atas dosen, mahasiswa Unesa, dan mahasiswa dari perguruan tinggi lain.
Dalam sambutannya, Dr. Ali Mustofa, M.Pd., Koordinator Prodi Sastra Inggris, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya tas terselenggaranya pementasan ini. “Kalian berhasil memahami dan mementaskan salah satu genre sastra tertua, yakni drama," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa mementaskan drama membutuhkan pemahaman dan kerja literer yang utuh. Mementaskan drama bukan hanya memahami teks tulis drama, melainkan juga mengubah teks tulis menjadi teks visual.
“Semua itu membutuhkan kerja kolaborasi tim yang baik. Itulah mengapa kali ini kalian telah belajar banyak darinya," tambah Ali Mustofa.
Ragam Tema yang Digelar

Dua belas drama yang dipentaskan mengusung tema yang beragam dan mendalam. Di antaranya: Mine Eyes Have Seen menyoroti konflik antara patriotisme dan kesetaraan ras bagi warga Afrika-Amerika di masa perang. An Irish Engagement mengangkat hasrat dan realita dalam perjodohan yang rumit. Campbell of Kilmohr mengeksplorasi pengkhianatan, kesetiaan, dan kekuasaan negara pasca pertempuran di Skotlandia.
Tak kalah menarik, He Said & She Said membahas kuasa, persetujuan, dan akuntabilitas dalam hubungan remaja. Trifles – drama klasik karya Susan Glaspell – menghadirkan kisah pembunuhan misterius yang mengkritik ketidakadilan gender melalui hal-hal kecil yang dianggap sepele oleh laki-laki. Lalu, The Intruder berhasil mengeksplorasi ketakutan akan kematian yang tidak terlihat dalam suasana yang penuh kecemasan.
Pementasan yang berlangsung secara bergilir ini mendapat respons hangat dari para penonton. Beberapa audiens mengaku tersentuh dan terbawa suasana. Salah satunya dikemukan Dewi. Mahasiswi Sastra Inggris semester 4 itu terkesan dengan pementasan drama The Intruder.
“Itu bikin merinding. Suasananya hening tapi mencekam. Saya sampai ikut tegang," ujar Dewi.
Kesan mendalam juga dirasakan mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yang mengaku paling terkesan dengan He Said & She Said. Menurutnya, dramanya terasa sangat dekat dengan realitas remaja saat ini.
“Isu consent itu dikemas tidak menggurui, justru menusuk. Ada teman saya sampai menangis," katanya.
Dosen pengampu mata kuliah drama, Dr. Much. Khoiri, M.Si., selaku ketua tim dosen Drama and Performance, menambahkan bahwa pementasan ini merupakan agenda tahunan yang terus dijaga keberlanjutannya.
"Detail drama insya-Allah dapat dilihat di kanal YouTube. Kami berharap dapat menjaga keberlanjutan pementasan drama dari tahun ke tahun," ungkapnya.
Khori mengatakan, kesuksesan pementasan ini tak lepas dari dukungan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Sastra Inggris. Teman-teman HMP begitu sigap membantu persiapan dan pelaksanaan pementasan ini, termasuk mengundang teman-teman mahasiswa dari perguruan tinggi lain. “Kami sangat berterima kasih," ucap Much. Khoiri.
Dengan berakhirnya pementasan, para mahasiswa tak hanya menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga membuktikan bahwa teks sastra klasik hingga kontemporer bisa hidup kembali – dan mampu mengguncang emosi penonton. (sir)
Share It On: