
Unesa.ac.id. SURABAYA—Mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dustin Favian Baihaqi, meraih dua medali emas dan enam penghargaan internasional pada Global Youth Innovation Summit (GYIS) Batch 17 Singapore–Malaysia yang berlangsung pada 26–29 Juli 2026.
Capaian tersebut diraih melalui inovasi Marivest, sebuah ekosistem digital yang dirancang untuk memperkuat kemandirian ekonomi nelayan Indonesia. Marivest sendiri dikembangkan Dustin sebagai ketua bersama tim yang terdiri dari; Sabrina Putri Azizah dari Universitas Airlangga, Nizam Panca dari SMAN 3 Cikarang Utara, Syafa Mutia Indrajaya dari SMPIP Daarul Jannah, serta Kayyisah Adeeva dari SMP Labschool Cibubur.
Prestasi itu tidak hanya menjadi pengakuan atas kemampuan mahasiswa di tingkat global, tetapi juga menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari kampus dapat berangkat dari persoalan riil masyarakat. Marivest dikembangkan sebagai respons terhadap masih kuatnya praktik sistem ijon yang membuat banyak nelayan kehilangan posisi tawar, sekaligus menghadapi keterbatasan akses terhadap permodalan, pemasaran, dan pendampingan usaha.
GYIS merupakan forum internasional yang diinisiasi organisasi kepemudaan Pemuda Mendunia untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai negara dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinan, memperluas jejaring global, dan mendorong kolaborasi menuju pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Selain kompetisi inovasi, kegiatan tersebut juga diisi seminar internasional, kunjungan akademik ke Nanyang Technological University (NTU), International Islamic University Malaysia (IIUM), dan Universiti Malaya (UM), serta rangkaian eksplorasi budaya.
Dalam ajang tersebut, Dustin yang merupakan mahasiswa angkatan 2023 berhasil meraih Fully Funded Awardee, 1st Place Most Inspirational Leader, 1st Place Most Creative Delegate, 1st Place SDGs Project Video, 2nd Place SDGs Project Presentation, 2nd Place Best Team, 3rd Place Best Speaker, serta membawa pulang dua Gold Medal melalui inovasi Marivest.

Dustin menjelaskan bahwa Marivest menjadi platform digital untuk transaksi hasil laut sekaligus menjadi ekosistem yang menghubungkan nelayan, investor, dan konsumen agar rantai ekonomi perikanan berjalan lebih adil dan berkelanjutan.
"Marivest tidak hanya menjadi aplikasi jual beli, tetapi sebuah ekosistem yang memastikan nilai ekonomi hasil laut kembali secara adil kepada nelayan sebagai pihak yang menciptakannya," ujarnya.
Platform tersebut menghadirkan empat layanan utama, yakni Marivest Financial sebagai skema pendanaan berbasis bagi hasil, Marivest Marketplace untuk mempertemukan nelayan dan pembeli tanpa perantara, Marivest Consultant sebagai layanan pendampingan usaha, serta Marivest Rantai Pasok yang mendukung distribusi produk sekaligus sertifikasi halal bagi UMKM pengolah hasil laut.
Menurutnya, keunggulan Marivest terletak pada pendekatan yang menyeluruh. Selain menawarkan solusi atas persoalan permodalan, inovasi tersebut juga dilengkapi analisis kelayakan finansial, model bisnis berkelanjutan, serta proyeksi dampak sosial yang disusun berdasarkan riset terhadap kondisi pelaku perikanan di Indonesia.
"Marivest kami rancang bukan hanya sebagai produk teknologi, tetapi juga solusi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, kami menyusun konsep bisnis, proyeksi keuangan, hingga strategi implementasinya secara realistis," katanya.
Bagi Dustin, penghargaan internasional tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan inovasi yang dikembangkan. Sebaliknya, capaian itu menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan Marivest agar dapat diimplementasikan lebih luas dan memberi manfaat nyata bagi pelaku perikanan Indonesia.
"Semoga Marivest dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak anak muda untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. Kami juga ingin terus mengembangkan inovasi ini agar memberi manfaat yang lebih luas bagi pelaku perikanan Indonesia," pungkasnya. ][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Dustin Favian Baihaqi






