
Unesa.ac.id., SURABAYA— Di tengah pengalaman migrasi yang membuat perempuan menghadapi kerentanan berlapis, solidaritas menjadi kekuatan untuk bertahan dan menghadapi kekerasan. Gagasan tersebut diangkat melalui Les Filles de la Mer, pertunjukan kolaborasi seniman Indonesia dan Prancis yang memadukan tari dan teater dengan eksplorasi tanah serta air sebagai elemen artistik.
Pertunjukan yang berlangsung di Graha Pertunjukan Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kampus II Lidah Wetan, pada 7–8 Agustus 2026 tersebut merupakan kolaborasi Pusat Unggulan IPTEK Seni Budaya Majapahitan (PUI-PT SBM) Unesa dengan Artistique Theatre dan Institut Français. Surabaya menjadi kota pertama dalam rangkaian pertunjukan yang selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Solo, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.
Les Filles de la Mer mengangkat tema sororité atau persaudaraan perempuan serta relasi perempuan dengan ibu, nenek, dan leluhur perempuan. Melalui perpaduan tari dan drama, pertunjukan mengeksplorasi laut sebagai ruang perjalanan sekaligus mengangkat persoalan migrasi dan kerentanan perempuan terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Kepala PUI Seni Budaya Unesa, Trisakti mengatakan pertunjukan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara seniman Prancis dan Indonesia sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana berbagai elemen dapat diolah menjadi karya seni.
“Ini luar biasa ya. Apa yang dimaksud dengan memakai tanah dan air, ternyata memang antara realitas permasalahan yang cukup besar tadi, dan sebagai perempuan itu ternyata juga perihal kekompakkan,” ujarnya.
Pertunjukan dikemas dengan penonton duduk melingkar mengelilingi tiga aktor, yakni Shaula Cambazzu, Lucile Cocito, dan Kadek Puspasari. Format tersebut membuat penonton berada dekat dengan proses artistik yang berlangsung di ruang pertunjukan dan dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama para pemain.
Tanah dan air menjadi bagian penting dalam konstruksi artistik pertunjukan. Para pemain membawa tanah yang digunakan secara natural tanpa campuran bahan kimia, sementara air yang digunakan dalam pertunjukan juga harus melalui proses penyaringan. Elemen tersebut menjadi bagian dari konsep “pulau yang terbalik”, ketika tanah dan air dikelola secara simbolis untuk merepresentasikan asal-usul para pemain atau karakter dari Irlandia, Italia, dan Bali.
Aktor sekaligus penulis naskah, Lucile Cocito, menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan yang terjadi di berbagai tempat dan dalam beragam bentuk, mulai dari kekerasan psikologis, fisik, hingga seksual. Kerentanan tersebut dapat semakin kompleks bagi perempuan yang mengalami migrasi.

“Di mana pun, perempuan di dunia ini banyak menjadi korban dari kekerasan. Tidak hanya seksual, semua jenis kekerasan termasuk psikologis, fisik, maupun seksual. Ketika wanita bermigrasi ke negara lain, kekerasan dialami sebelum berangkat. Ketika di perjalanan, mereka juga bisa menghadapi kejadian seperti itu,” jelasnya.
Gagasan tersebut dibangun dari pengalaman dan referensi personal maupun sejarah. Salah satunya berkaitan dengan kondisi kesehatan keluarga serta simbol tali pusar, sementara sejarah Irlandia tentang penemuan sekitar 800 jenazah bayi di bekas penampungan bagi ibu yang tidak menikah turut menjadi bagian dari lapisan cerita pertunjukan.
Bagi PUI-PT SBM Unesa, kolaborasi tersebut menjadi ruang pertunjukan, sekaligus membuka peluang pengembangan jejaring seni lintas negara. Trisakti berharap kerja sama serupa dapat terus berlanjut dan memberi ruang bagi mahasiswa Unesa untuk mengembangkan karya hingga ke panggung internasional.
“Tentunya kalau bagi mahasiswa ya inovasi itu tidak akan berhenti. Penyampaian inovasinya itu bisa diri kita dan diolah oleh sekitar. Itu yang bisa kita tuangkan dalam kreativitas video. Kita ungkapkan, ya ternyata tidak terlalu sulit juga bisa diterima oleh penonton atau masyarakat,” tandasnya. ][
***
Reporter: Medina Azzahra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






