
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., SURABAYA – Sebanyak 68 peserta didik kelas IX SMP Labschool Unesa 3 Surabaya memamerkan beragam karya inovatif dalam kegiatan Gelar Karya 8 Dimensi Profil Lulusan yang berlangsung pada 6–7 Juni 2026 di Ciputra World Surabaya.
Beragam karya inovatif ditampilkan dalam pameran tersebut, mulai dari produk makanan, kerajinan tangan, buku cerita, pewangi ruangan, hingga aplikasi berbasis teknologi.
Kepala Badan Pengelola Labschool Unesa, Sujarwanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mewujudkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga menghasilkan produk nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, konsep pembelajaran di Labschool Unesa dirancang untuk mendorong peserta didik berpikir kreatif, inovatif, dan mampu mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh di kelas menjadi karya yang memiliki nilai guna.
“Melalui gelar karya ini, siswa belajar bagaimana sebuah ide dapat diwujudkan menjadi produk nyata. Mereka tidak hanya memahami konsep atau teori, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, hingga jiwa kewirausahaan yang sangat dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMP Labschool Unesa 3 Surabaya, Dian Hijrah Saputra, menjelaskan bahwa gelar karya merupakan tujuan akhir dari proses pembelajaran diferensiasi dan pembelajaran mendalam yang telah diterapkan sejak siswa duduk di kelas VII hingga kelas IX.

www.unesa.ac.id
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar pameran hasil karya, melainkan representasi dari seluruh proses belajar yang telah dilalui peserta didik selama tiga tahun.
“Gelar karya ini bukan hanya menghasilkan produk, tetapi setiap karya lahir dari proses pembelajaran yang mereka jalani. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban akademik sekaligus pengembangan karakter peserta didik,” jelasnya.
Ia menerangkan, pada kelas VII siswa mengerjakan proyek secara berkelompok besar, kemudian kelompok diperkecil pada kelas VIII, dan saat kelas IX mereka mengerjakan proyek secara individu layaknya mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir.
“Kami ingin anak-anak memiliki soft skill untuk menjelaskan ide, gagasan, dan karya yang telah diciptakan dan diberikan kepada pengunjung. Ini menjadi bekal penting sebelum mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau SMK,” katanya.
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam mewujudkan profil lulusan SMP Labschool Unesa 3 yang berkarakter kearifan lokal dan berwawasan global, sekaligus mengimplementasikan Profil Lulusan 8 Dimensi (P8) yang sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional dalam penguatan karakter, kompetensi, dan kreativitas peserta didik.

www.unesa.ac.id
Salah satu peserta, Zahra Putri Adhidarmawan, menghadirkan karya berupa bunga hias yang dibuat dari limbah botol plastik. Ia mengaku terinspirasi oleh banyaknya sampah plastik yang masih ditemukan di lingkungan sekitar.
Baginya botol plastik ternyata bisa dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomis. Selain mengurangi sampah, bunga plastik ini juga memiliki nilai estetika.
Karya menarik lainnya ditampilkan Kadek Devina Daneswari melalui produk Kejita (Kerajinan Tanah Liat). Produk tersebut berupa peralatan makan berbahan tanah liat yang dihias dengan motif budaya Indonesia seperti batik Megamendung dan motif buah-buahan.
Ia mengungkapkan terinspirasi dari kebiasaan di kantin SMA dan SMP Labschool yang sudah tidak menggunakan plastik maupun styrofoam. Karena itu saya membuat produk ramah lingkungan dari tanah liat yang dihias dengan nuansa budaya Indonesia.
“Proses pengerjaannya sekitar empat hari karena membutuhkan waktu pengeringan yang cukup lama. Tantangannya harus teliti dan sabar dalam setiap tahap pembuatannya,” jelasnya. [ ]
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @rach*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: