
Unesa.ac.id. SURABAYA—Perkembangan teknologi yang mengubah peta dunia kerja menuntut pendidikan vokasi bergerak lebih cepat dari sekadar menyesuaikan kurikulum. Perguruan tinggi vokasi kini ditantang melahirkan lulusan yang adaptif, berkarakter, sekaligus mampu menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan dunia usha dan industri (dudi) dan pembangunan nasional.
Arah transformasi itulah yang ditekankan dalam Seminar Nasional dan Kongres Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) bertajuk "Vokasi Unggul Indonesia Maju: Sinergi Inovasi Terapan untuk Hilirisasi Industri dan Ketahanan Nasional" yang diselenggarakan Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Auditorium Rektorat, Kampus II Lidah Wetan, pada Senin, 3 Agustus 2026.
Kegiatan ini merupakan rangkaian Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI yang berlangsung di kampus ‘Rumah Para Juara’ ini dihadiri perwakilan perguruan tinggi vokasi dari berbagai daerah itu menjadi ruang konsolidasi gagasan mengenai penguatan pendidikan vokasi, mulai dari pembaruan kurikulum, pengembangan karakter mahasiswa, hingga penguatan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri agar inovasi yang lahir dari kampus dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengatakan bahwa tantangan pendidikan vokasi saat ini tidak hanya terletak pada penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan lulusan beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, penguatan soft skills, pembaruan kurikulum, dan penyediaan fasilitas pembelajaran yang relevan harus berjalan secara bersamaan. "Melalui forum ini diharapkan lahir berbagai gagasan, inovasi, dan terobosan untuk memajukan pendidikan vokasi Indonesia di masa depan," ujarnya.
Ketua Umum Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI), Muh. Restu, menambahkan bahwa pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan talenta yang mampu memperkuat daya saing Indonesia.

“Karena itu, sinergi antarperguruan tinggi menjadi penting agar pengembangan SDM berjalan selaras dengan kebutuhan pembangunan nasional,” bebernya.
Dalam forum tersebut, pakar pendidikan Unesa sekaligus rektor senior Unesa periode 2010–2014, Muchlas Samani mengingatkan bahwa disrupsi digital telah mempercepat perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Menurutnya, lembaga pendidikan vokasi perlu merespons perubahan tersebut melalui inovasi kurikulum dan kepemimpinan yang tidak hanya bertumpu pada aspek administratif, tetapi juga dibangun di atas komitmen intelektual, sosial, dan spiritual.
Sementara itu, Direktur Politeknik Mitra Industri Bekasi, Wikan Sakarinto, menekankan pentingnya membangun inovasi pendidikan yang berangkat dari kebutuhan nyata dunia usaha dan dunia industri.

Ia melanjutkan, pengembangan teknologi harus diawali dengan pemetaan kebutuhan pasar agar hasil riset tidak berhenti sebagai produk akademik, melainkan dapat dihilirisasikan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat dan sektor industri.
Selain mempertemukan berbagai gagasan, forum tersebut juga menjadi momentum memperkuat jejaring pendidikan vokasi nasional melalui Kongres FPTVI dan penandatanganan kerja sama antarperguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat lahirnya inovasi terapan, memperkuat hilirisasi hasil riset, serta menghasilkan lulusan vokasi yang semakin relevan dengan tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.][
***
Reporter: Ahmad Daffa F. (FT)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






