RSS Feedhttps://www.unesa.ac.id/RSS Feedid-idwww.unesa.ac.idSun, 21 Jul 2019 19:42:25feed_domain (info@unesa.ac.id)Unesa Raih Juara Pertama Monolog Tingkat NasionalUnesa.ac.id, Surabaya - Unesa kembali mengibarkan prestasi yang diraih oleh mahasiswanya. Abdul Fata Jaelani Mahasiswa Drama Jurusan Sendtratasik berhasil menyabet juara pertama dalam kejuaraan monolog tingkat nasional. Monolog dengan judul "Patih Nguntalan" tulisan Nur Sahid dimainkan dengan apik di Gedung Sosieted De Harmoni Makassar, kemarin, (20/07). Menurut Abdul Fatah untuk menyabet juara pertama tidaklah mudah semua butuh proses sehingga ia siap untuk bersaing dengan kontestan terbaik lainnya. “Proses pencapaian ini cukup panjangan mulai pembentukan vokal, pembentukan 4 karakter dan efektifitas artistik harus dilakukan untuk dapat mengolah naskah yang harus dimainkan 1 jam menjadi 15 menit,” Ujar Fatah. Naskah yang ia perankan berkisah tentang persoalan korupsi dalam suatu negeri. Lingkaran setan sistem membuat nisbi antara korupsi, kesadaran, hadiah dan kekuasaan. Penggarapan yg dikemas dengan mengambil roh ketoprak menjadi lbh mengena dalam menguasai jalan ceritanya, meski harus dibungkus dengan teknik modern termasuk pengembangan artistik dan teknik bermain modern. Pada perhelatan tersebut Unesa hanya mengirim satu kontingan monolog dari tiga cabang lomba yg diadakan oleh pantia. Vokal solo kreasi tradisi, tari kreasi tradisi dan monolog kreasi tradisi. Hal itu dimaksudkan agar ada semacam penggalian nilai-nilai tradisi dalam balutan sajian modern. Untuk tari kreasi tradisi dimenangkan oleh kontingen UNJ, vokal solo kreasi tradisi diraih oleh Unnes Semarang, dan monolog kreasi tradisi diraih oleh Unesa. Pada event kali ini tim monolog Unesa di dampingi Arif Hidajad dosen Sendratasik yang juga menjadi dramaturg monolog Patih Nguntalan. Sebagai informasi event yg digelar oleh Ap2seni ini baru pertama kali diselenggarakan untuk mewadahi prestasi mahasiswa disamping peksiminas. Tujuan yg lain adalah sebagai tolok ukur perkembangan mahasiswa melalui komunikasi karya. Selain meningkatkan peran asosiasi bagi prodi pendidikan sendratasik se-Indonesia. (why)https://www.unesa.ac.id/unesa-raih-juara-pertama-monolog-tingkat-nasionalSun, 21 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-21-07-2019-08-34-20-371.pnghttp://www.unesa.ac.id//unesa-raih-juara-pertama-monolog-tingkat-nasionalBahas “Output” di Era Revolusi Industri 4.0, Jurusan Manajemen Pendidikan Gelar FGD bersama StakeholderUnesa.ac.id – Surabaya, Bertempat di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa, Prodi S1-Manajemen Pendidikan (MP) bersama stakeholder dari lembaga mitra melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) guna merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja di era revolusi industri 4.0, (11/07). Beberapa poin utama yang dijadikan sebagai acuan adalah nilai karakter, revolusi industri 4.0, society 5.0, literasi digital, struktur kurikulum mayor-minor, double degree, serta kurikulum tanggap bencana. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FIP Unesa, Dr. Wagino, M.Pd., dan Ketua Jurusan Syunu Trihantoyo, M.Pd. Banyak masukan yang disampaikan dalam FGD tersebut. Masing-masing stakeholder memaparkan gambaran aktifitas pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik serta kompetensi yang diharapkan ada pada masa mendatang di setiap satuan kerjanya. Dalam hal ini, yang menjadi stakeholder yakni Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Balai Pengambangan SDM Provinsi Jatim, LPMP Jatim, Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Balai Diklat Keagamaan Surabaya, BKD Kabupaten Gresik, Sekolah Tinggi Angkatan Laut, dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Jatim. Dalam FGD kali ini juga disosialisasikan pedoman magang manajemen pendidikan sebagai bagian dari kurikulum prodi, guna mendekatkan pengetahuan mahasiswa dengan dunia kerja. Hal tersebut berkaitan dengan profil lulusan Prodi S-1 MP, yakni sebagai pengelola pendidikan, analisis pendidikan, serta tata laksana pendidikan. Itu tersecermin dari bidang pekerjaan alumni Prodi MP sebagai auditor di Inspektorat Kemendikbud, analisis sarpras, dan analisis diklat di Kemendikbud, serta bidang pendidikan lainnya. (Humas Unesa)https://www.unesa.ac.id/bahas-output-di-era-revolusi-industri-40-jurusan-manajemen-pendidikan-gelar-fgd-bersama-stakeholderWed, 17 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-17-07-2019-10-36-10-1336.pnghttp://www.unesa.ac.id//bahas-output-di-era-revolusi-industri-40-jurusan-manajemen-pendidikan-gelar-fgd-bersama-stakeholderYudisium FIO: Kembangkan Moralitas, Moralitas, Moralitas, Disusul dengan PrestasiUnesa.ac.id – Surabaya, Fakultas Ilmu Olahraga (FIO) Unesa sukses gelar yudisium di Auditorium lantai 3, (16/7). Acara tersebut dihadiri oleh Dr. Setiyo Hartoto, M.Kes. (Dekan FIO), Drs. Gatot Darmawan, M.Pd. (Wakil Dekan Bidang Akademik), Drs. Arif Bulqini, M.Kes. (Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan), Abdul Hafidz, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni), Drs. Machfud Irsyada, M.Pd. (alumni IKIP ’93, sekaligus Pelatih Nasional), serta jajaran pimpinan selingkung FIO lainnya. Yudisium yang digelar hari ini meluluskan lebih kurang 112 mahasiswa dari 3 jurusan yang ada di FIO, yakni Jurusan Pendidikan Olahraga (40 yudisiawan/wati), Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga (24 yudisiawan/wati), dan Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi (48 yudisiawan/wati). Dari sekian jumlah peserta yudisium, ada 3 yudisiawati terbaik tingkat fakultas yang berhak menerima penghargaan, yakni Priska Okta Avia Martha (S1 Ilmu Keolahragaan), Laily Mita Andriana (S1 Pend. Kepelatihan Olahraga) dan Desy Kartika Permatasari (S1 Pend. Kesehatan dan Rekreasi). Penghargaan yang diberikan berupa piagam serta uang sebagai bentuk apresiasi kepada yudisiawati yang sudah mendapatkan hasil terbaiknya selama menjadi mahasiswa dan mengenyam pendidikan di FIO. Pada kegiatan ini, Aditya Basuki, wakil dari yudisiawan/wati mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pidatonya. Dalam pidatonya, Aditya mengucapkan terima kasih kepada jajaran pimpinan, dosen, dan karyawan selingkung FIO Unesa yang sudah membantu dan ikut berkontribusi selama beproses menjadi mahasiswa. Sementara itu, dalam sambutannya, Setiyo Hartoto memberikan nasihatnya kepada yudisiawan/wati untuk senantiasa rendah hati dan senantiasa mengamalkan ilmu yang diterimanya selama menjadi mahasiswa. Dalam hal ini, Setiyo Hartoto juga menyampaikan jika orang yang pintar kalah dengan orang yang beruntung. “Tapi saya berharap saudara itu, ya pandai, ya beruntung,” pungkasnya. Selain sambutan dari Setiyo Hartoto, yudisiawan/wati juga mendapatkan pesan dari Machfud Irsyada, “Nomer satu mengembangkan moralitas, dua mengembangkan moralitas, tiga mengembangkan moralitas, keempat mengembangkan prestasi,” ujar pelatih nasional tersebut. (hasna/ay) https://www.unesa.ac.id/yudisium-fio-kembangkan-moralitas-moralitas-moralitas-disusul-dengan-prestasiTue, 16 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-16-07-2019-10-15-15-1367.pnghttp://www.unesa.ac.id//yudisium-fio-kembangkan-moralitas-moralitas-moralitas-disusul-dengan-prestasiSuguhkan Pertunjukkan Wayang pada Penutupan KKNUnesa.ac.id – Surabaya, Andri Setiawan, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa berhasil menampilkan kesenian wayang dalam acara Inagurasi penutupan KKN 139 di DusunWonosalam, Kec. Prigen, Kab. Pasuruan. Tidak hanya wayang yang ditampilkan dalam acara penutupan tersebut, ada penampilan mendongeng, menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dengan Bahasa Mandarin, dan menyanyikan lagu Sampai Jumpa (Endank Soekamti) dengan SIBI (bahasa isyarat). Wayang (lakon) yang digunakan dalam pertunjukkan pun terbilang sangat sederhana. Berbahan dasar duplek tipis, sedotan sebagai gagang, serta cat warna-warni untuk finishing, anak KKN 139 bersama anak Dusun Wonosalam membuat wayang dengan karakter kancil, singa, ular, petani, raja, ratu, dan masih banyak lagi. Mengangkat cerita si Kancil dengan durasi 1 jam, Andri yang lebih akrab dipanggil “Mbah” seolah sudah piawai dalam memainkan perannya sebagai dalang. Saat diwawancarai, Andri mengaku sudah menyukai wayang sejak kecil, bahkan mainan wayang sudah menjadi kesehariannya. Menurutnya, wayang itu memiliki keunikan. Selain itu, cerita dan tokohnya juga menginspirasi, seperti Ramayana, Mahabarata, dan masih banyak lagi. Andri mempelajari wayang secara otodidak, dari melihat VCD, menonton secara langsung, hingga mencoba belajar pada tokoh yang mumpuni, baik dari segi cerita maupun iringannya. Namun, Andri juga menyadari kalau semua itu belum maksimal, karena dia masih belum fokus mempelajari itu semua. “Untuk menekuni sebatas mengetahui mungkin iya, tetapi untuk memperdalam mungkin tidak, karena saya memilih untuk menekuni dunia sastra Jawa. Jadi, wayang ini hanya saya buat selingan saja,” paparnya. Namun, Andri masih punya keinginan kuat untuk membuat sebuah cengkok atau gaya wayang lain, yakni ingin mengembangkan kembali wayang Kancil. Menurutnya, wayang kancil tidak berkembang luas, bahkan yang lebih memprihatinkan, yang mengembangkan wayang tersebut adalah dalang perempuan dari luar negeri (dilansir dari youtube). Dia berharap, keinginannya bisa terealisasi demi terjaganya kebudayaan lokal nusantara, khususnya budaya Jawa. (emir/ay)https://www.unesa.ac.id/suguhkan-pertunjukkan-wayang-pada-penutupan-kknTue, 16 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-16-07-2019-07-31-34-2231.pnghttp://www.unesa.ac.id//suguhkan-pertunjukkan-wayang-pada-penutupan-kknSeluruh Jajaran Pimpinan Wajib Miliki Jiwa LeadershipUnesa.ac.id – Surabaya, Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., tidak main-main dalam mencanangkan serta mengembangkan atau mengupgrade jiwa kepemimpinan seluruh pimpinan Universitas, Fakultas, hingga Jurusan, dan Prodi. Menurut Nurhasan, menjadi seorang pemimpin harus memiliki sikap yang tegas, berani, dapat mengevaluasi diri, dan menguasai diri dalam menghadapi masalah. Nurhasan juga menambahkan bahwa menjadi seorang pemimpin harus berani mengambil resiko. Dari situlah muncul inovasi yang brilian untuk berpikir kreatif dan efektif, khususnya dalam menyelesaikan masalah yang timbul, baik di dalam dunia kerja maupun di kehidupan sehari-hari. "Ayo, demi kemajuan Unesa, pimpinan universitas, fakultas, jurusan, hingga prodi mari menguatkan jiwa kepemimpinan demi membangun lembaga yang lebih solid dan bermartabat. Perlu diingat, kita adalah kabinet bersama, bisa bekerja sama dan sukses bersama," ujar Nurhasan. Dalam upaya mewujudkan itu semua, seluruh jajaran pimpinan di tingkat universitas, fakultas, jurusan, hingga prodi, dikirim untuk melaksanakan pelatihan leadership di sekolah SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), Batu selama 4 hari, terhitung sejak tanggal 15 s.d. 18 Juli mendatang. Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Suprapto, S.Pd., M.T., berharap seluruh jajaran pimpinan yang mengikuti kegiatan ini dapat mengambil ilmu yang bermanfaat serta mengimplementasikannya untuk memperbaiki kinerja selama melaksanakan tugas. Ke depan, pelatihan semacam ini juga akan diberikan kepada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan guna menanamkan jiwa leadership di setiap pribadi yang bersangkutan, sehingga mereka lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. (why/tni/ay)https://www.unesa.ac.id/seluruh-jajaran-pimpinan-wajib-miliki-jiwa-leadershipTue, 16 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-16-07-2019-05-09-16-0932.pnghttp://www.unesa.ac.id//seluruh-jajaran-pimpinan-wajib-miliki-jiwa-leadershipPKKUI Angkat Tema Gender Equality dalam Bentuk Project Based Learning Unesa.ac.id – Surabaya, Hari ini (15/7), Unesa gelar pembukaan Program Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional (PKKUI) di lantai 11 Auditorium Gedung Rektorat. Dalam kegiatan ini, turut hadir Dr. Sujarwanto, M.Pd. (Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama), Lina Purwaning Hartanti, M.Eil. (Perwakilan dari Unesa), Evi Eliyanah, Ph.D. (perwakilan dari Universitas Negeri Malang), serta Dwi Nita Aryani, Ph.D. (perwakilan dari STIE Malangkucecwara). Peserta yang terlibat pun tidak hanya dari ketiga universitas yang tersebut di atas, melainkan ada juga dosen dan mahasiswa dari Thailand (Yala Rajabhat University dan Rajamanggala University of Technology Krungthep) dan Filipina (Mariano Marcos State University). Program yang dirancang dalam bentuk Project Based Learning (PBL) ini mengangkat tema Gender Equality: Strengthening the Support System for Migrant Workers’ Families in Indonesia. Program ini merupakan bentuk kerjasama dengan Universitas Negeri Malang (UM) dan STIE Malangkucecwara (MCE). Program yang direncanakan berlangsung selama lebih kurang 10 hari, terhitung mulai tanggal 14 s.d. 24 Juli 2019 ini merupakan bentuk program singkat yang dirancang sebagai kursus umum dengan pendekatan multidisiplin bagi peserta untuk belajar tentang masalah diantara keluarga pekerja migran dan serangkaian tindakan yang diambil untuk mengatasinya. Setiap topik dirancang dalam bentuk Project Based Learning (PBL), di mana peserta akan belajar melalui kasus dan pengalaman langsung dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Diharapkan, program ini akan meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan lintas budaya, serta keterampilan bersosialisasi dengan masyarakat (bagi peserta). Tidak hanya di Unesa, kegiatan ini nantinya juga akan berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial Gedung I1 lantai 7, Aula Kartini UM, Dusun Purwodadi, Kecamatan Donomulyo, serta di STIE Malangkucecwara. (ay)https://www.unesa.ac.id/pkkui-angkat-tema-gender-equality-dalam-bentuk-project-based-learningMon, 15 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-07-2019-10-58-26-1584.pnghttp://www.unesa.ac.id//pkkui-angkat-tema-gender-equality-dalam-bentuk-project-based-learningGala Dinner ICSE 2019: The Third International Conference Unesa.ac.id – Surabaya, Unesa tengah berbahagia karena menjadi tuan rumah event berskala internasional, yakni International Conference on Special Education (ICSE) yang digelar sejak tanggal 13 hingga 15 Juli di Hotel Shangri-la Surabaya. Penutupan kegiatan ICSE sendiri dituangkan dalam Gala Dinner yang dilaksanakan di Kolam Renang Unesa, Kampus Lidah Wetan, (14/07). Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Agus Hariyanto, M.Kes., Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama, Dr. Sujarwanto, M.Pd., perwakilan dari kementerian Kebudayaan Indonesia, perwakilan dari Jepang, Korea, Hongkong, dan UK, serta ke-10 negara yang berpartisipasi dalam acara ICSE 2019 dan Seameo sen. Dalam acara tersebut, para tamu dan perwakilan dari berbagai negara yang ikut berpartisipasi juga mendapatkan cinderamata beserta mascot dari Unesa. Sesuai dengan nama acara tersebut, makan malam menjadi acara yang paling dinanti dan mendapatkan antusias yang besar. Tamu yang hadir terlihat antusias menikmati makanan tradisional dan khas Indonesia yang disediakan oleh Unesa. Selama acara makan malam berlangsung, para tamu juga dihibur dengan penampilan live musik, para tamu juga dipersilahkan untuk menyumbangkan suara dan kreatifitasnya dalam bermusik. Dalam sambutannya, Bambang berharap moment malam ini bisa menjadi wadah dalam menguatkan silahturahmi, menguatkan kerjasama, dan kolaborasi untuk perkembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dua tahun berikutnya, tepat tahun 2021 the fourth ICSE akan diselenggarakan di Malaysia. “Terus berkarya dan berinovasi untuk kita semua, untuk anak-anak negeri, untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Bambang. (hasna/ay)https://www.unesa.ac.id/gala-dinner-icse-2019-the-third-international-conferenceMon, 15 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-07-2019-10-53-19-7986.pnghttp://www.unesa.ac.id//gala-dinner-icse-2019-the-third-international-conferencePenutupan Orientasi Diklat Sertifikasi Kompetensi bagi Guru SPK Unesa.ac.id – Surabaya, Universitas Negeri Surabaya bekerja sama dengan Askajati (Asosiasi Sekolah SPK Jawa Timur) menyelenggarakan pelatihan bagi guru SPK untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi. Masa pelatihan telah dimulai sejak tanggal 8 Juli 2019 dan berakhir pada13 Juli 2019 di lantai 9 Gedung Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M). Acara ini dihadiri oleh Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., Drs. Martadi, M.Sn, Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., BAN dan Askajatim. Kegiatan Diklat Kompetensi bagi Guru SPK baru kali pertama diselenggarakan di Indonesia. Tujuan dari diselenggarakannya kegiatan diklat ini adalah untuk meningkatkan kompetensi para pendidik di lembaga SPK secara berkelanjutan, untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan terkait dengan SNP (Standard Nasional Pendidikan), khususnya dalam standard isi, proses, dan penilaian serta yang terakhir untuk mensertifikasi kompetensi guru SPK sebagai bagian dari syarat kelengkapan akreditasi sekolah. Pada kegiatan ini, materi yang diberikan identik dengan materi PPG dalam jabatan atau PLPG dalam jabatan yang diringkas atau dipadatkan. Acara ini diikuti lebih kurang 442 peserta yang berasal dari 8 provinsi (Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Bali) yang terdiri dari guru 16 mata pelajaran yang dibagi menjadi 21 rombongan belajar. Fasilitator dalam kegiatan ini berasal dari LPA, BAN, dan Unesa sendiri yang berjumlah sekitar lebih kurang 100 orang. Selama satu minggu menjalani pelatihan, para guru ini melakukan banyak kegiatan, diantaranya pre-test, penguatan materi dari BAN, penguatan kompetensi pedagogi dan professional, serta yang terakhir post-tes berbasis komputer. Dari hasil test yang dilakukan, didapati 22 peserta dengan nilai tertinggi di kelas masing-masing, diantaranya Inez Noviyanti Salim, S.A.,S.T., Arief Rachman, S.Si., David Lesman, S.T., Oktavia Ratna Utami, S.Pd., M.M., dan beberapa peserta lainnya. Dalam sambutannya, Martadi menyampaikan bahwa para guru yang mengikuti kegiatan diklat ini diibaratkan seperti pembalap F1, “Kami tidak mengajarkan mereka cara menyetir, yang kami ajarkan bagaimana cara menyetir mobil balap di jalan nasional.” Para guru diajarkan untuk mengetahui standar-standar pendidikan nasional, bukan hanya menguasai standar pendidikan internasional tapi juga standar nasional pendidikan. Seorang guru adalah orang yang dibutuhkan oleh bangsa untuk mewarnai dan memajukan bangsanya. Oleh sebab itu, para guru berkewajiban untuk memperkenalkan warna ke-Indonesiaan, sehingga anak-anak Indonesia tidak kehilangan akar ke-Indonesiaan ketika mereka berada di level internasional. “Harapannya, mau tidak mau, suka tidak suka, di era industri 4.0 ini, Bapak/Ibu sekalian dituntut untuk kreatif. Ketika berkreativitas perlu kolaborasi dan beradaptasi dengan situasi,” ujar Nurhasan dalam sambutannya. (hasna/ay)https://www.unesa.ac.id/penutupan-orientasi-diklat-sertifikasi-kompetensi-bagi-guru-spkMon, 15 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-07-2019-10-49-29-719.gifhttp://www.unesa.ac.id//penutupan-orientasi-diklat-sertifikasi-kompetensi-bagi-guru-spkYudisium FT : Unesa Siap Mengimplementasikan Kompetensi dan Berkompetisi Dunia Kerja Di Era Revolusi Industri 4.0 Unesa.ac.id - Surabaya, Fakultas Teknik (FT) Unesa gelar yudisium sarjana dan diploma periode II tahun 2019 di Auditorium E1 Gedung Dekanat dengan mengusung tema “Unesa Siap Mengimplementasikan Kompetensi dan Berkompetisi Dunia Kerja Di Era Revolusi Industri 4.0”, (12/7). Yudisium periode II tahun 2019 ini diikuti sebanyak lebih kurang 192 peserta, yang terdiri dari Jurusan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Sipil, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, dan Jurusan Teknik Informatika. Mahasiswa yang berprestasi menerima penghargaan yang diberikan langsung oleh Dekan FT, Dr. Maspiyah, M.Kes. Mahasiswa yang beruntung tersebut adalah Mohammaad Samsul Huda (Prodi S1 Teknik Elektro), Mohammad Allifudin Syarif (Prodi S1 Pendidikan Teknik Mesin), dan lulusan terbaik tingkat fakultas, yakni Intan Alpiana (Prodi S1 Teknik Informatika). Perwakilan dari lulusan terbaik, Intan Alpiana mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah berkontribusi membantunya selama menjalankan proses perkuliahan hingga dia sampai pada tahapan yudisium, khususnya para dosen yang dengan sabar memberikan bimbingan dan ilmunya. “Berkat pengorbanan, ketekunan, jerih payah, dan kesabaran Bapak/Ibu dosen yang telah membimbing dan memberikan tuntutan untuk meretas ilmu, bagaikan lilin di kegelapan sebagai penerang dalam meniti dan menggapai cita-cita masa depan,” ujarnya. Intan juga menegaskan jika yudisium bukan akhir dari kegiatan belajar, tetapi merupakan tonggak untuk mulai mengimplementasikan hasil belajar ke dalam dunia kerja dan masyarakat. “Saya mengajak seluruh teman-teman peserta yudisium agar apa yang telah kita peroleh di kursi kuliah dapat terus kita kembangkan dan tingkatkan untuk menatap dunia global yang penuh tantangan,” tegasnya. Sementara itu, dalam sambutannya, Maspiyah juga mengucapkan selamat kepada para yudisiawan/wati yang sudah menyelesaikan masa perkuliahannya. “Saya tahu bahwa mahasiswa Fakultas Teknik memiliki softkill yang luar biasa. FT memang paling luar biasa, paling laris, paling banyak prodi, mahasiswa banyak, dosennya paling banyak, dan aktivitasnya paling banyak,” ujar Maspiyah. Maspiyah juga berpesan kepada para yudisiawan/wati untuk terus meningkatkan prestasinya, dimana pun mereka berada. (sh/ay)https://www.unesa.ac.id/yudisium-ft--unesa-siap-mengimplementasikan-kompetensi-dan-berkompetisi-dunia-kerja-di-era-revolusi-industri-40Fri, 12 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-07-2019-10-42-05-0793.pnghttp://www.unesa.ac.id//yudisium-ft--unesa-siap-mengimplementasikan-kompetensi-dan-berkompetisi-dunia-kerja-di-era-revolusi-industri-40Padukan Referensi Pendidikan Inklusi dari Korea dan Indonesia dalam ICSE 2019Unesa.ac.id, Surabaya - Pelaksanaan Konferensi Internasional Pendidikan Inklusi (3rd International Conference on Special Education) di Hotel Shangri la Surabaya hari kedua 14 Juli 2019 semakin hidup. Peserta dari puluhan negara pun makin antusias. Sesi Plenary yang dipandu oleh moderator Tsuroyya, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu memunculkan banyak referensi dan data baru terkait pengembangan program pendidikan inklusi, diantaranya dari presentasi yang dipaparkan oleh Dr. Jeongho Cha dosen Faculty of Science Daegu University, Korea. Dia berbagi pengalaman tentang program pengembangan pembelajaran dan kurikulum di kampusnya. Meski kampus umum, namun Daegu University tetap memberikan porsi bagi pendidikan inklusi. Beberapa mata kuliah yang diajarkan di kampus Daegu dirancang khusus untuk membekali mahasiswa sehingga memiliki keterampilan yang mengakomodasi pengajaran dan pendidikan anak-anak inklusi saat mereka lulus. Selain itu, Dr. Jeongho juga memaparkan hasil penelitian di kampusnya bahwa membangun potensi anak berkebutuhan khusus itu bisa dengan cara mendesain lingkungan yang memungkinkan mereka untuk melakukan banyak pergerakan fisik. Hal itu bisa dengan melakukan pembiasaan kecil dan sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Di situlah kita akan tahu kalau ABK itu brilian, lihat hasil karya mereka, sederhana tapi memiliki keunikan dan kekhasan,” ujarnya. Dr. Mudjito Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pemateri kedua memperkuat pemaparan Prof. Jeongho Cha sebelumnya lewat hasil penelitiannya tentang mitigasi bencana bagi anak-anak disabilitas. Latar belakang penelitiannya adalah berawal dari seringnya beberapa daerah di Indonesia yang ditimpa bencana. Ternyata, masih banyak sekolah yang belum memiliki banyak pengalaman dan referensi dalam mengkondisikan anak-anak berkebutuhan khusus ketika terjadi bencana. Disayangkan juga, banyak kondisi sekolah yang bangunannya belum banyak didesain ramah bagi disabilitas. Arya Indrawati, Ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) secara vokal menyampaikan bahwa selama ini pemerintah belum memberikan perhatian yang maksimal terhadap nasib para penyandang tunanetra yang kurang memiliki peluang dalam mencari pekerjaan atau berkarir. Pemerintah harus satu langkah lebih maju. Selain mendorong dan merancang program pendidikan inklusi, juga harus mendorong agar para disabilitas mendapat kesempatan luas dalam hal akses pekerjaan. Pertuni sendiri selama ini sudah membentuk lembaga pelatihan sendiri sebagai wadah pembekalan skill bagi para penyandang tunanetra. Menindaklanjuti hal itu, agar para disabilitas yang sudah dilatih itu diserap di bursa kerja, Pertuni juga membentuk pusat pembelajaran Matematika khusus untuk tunanetra. Akhir penyampaiannya, Arya mendesak pemerintah untuk merealisasikan buku pelajaran menggunakan huruf braille mulai dari SD sampai SMA. Lebih jauh karena ini era kemajuan aplikasi dan teknologi informasi, maka juga perlu banyak inovasi aplikasi yang memudahkan anak yang berkebutuhan khusus. (vin) https://www.unesa.ac.id/padukan-referensi-pendidikan-inklusi-dari-korea-dan-indonesia-dalam-icse-2019Sun, 14 Jul 2019https://www.unesa.ac.id/images/foto-15-07-2019-03-58-49-2712.pnghttp://www.unesa.ac.id//padukan-referensi-pendidikan-inklusi-dari-korea-dan-indonesia-dalam-icse-2019