
Ketua Host RKI EQUITY Unesa, Agus Wiyono dan Ketua Mitra RKI EQUITY LPPM UM, Hary Suswanto beserta jajaran tim riset.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Jarak antara kompetensi lulusan sekolah kejuruan dengan potensi riil daerah disinyalir menjadi akar masalah tingginya angka pengangguran dan urbanisasi. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Universitas Negeri Malang (UM) melalui kolaborasi Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) EQUITY, melakukan pemetaan mendalam terhadap ekosistem potensi daerah di Kabupaten Lamongan dan Pamekasan.
Kolaborasi yang mengusung riset bertajuk “Optimalisasi Pemetaan Potensi Daerah sebagai Dasar Pengembangan Kompetensi dan Evaluasi Keahlian Sekolah Kejuruan untuk Meningkatkan Kesejahteraan”ini bertujuan memastikan kekayaan alam daerah dikelola oleh putra daerah sendiri melalui kebijakan hilirisasi yang ideal.
Ketua Host RKI EQUITY Unesa, Agus Wiyono menegaskan bahwa persoalan utama di daerah saat ini bukanlah kurangnya sumber daya, melainkan terjadinya mismatch atau ketidaksesuaian pendidikan. Banyak SMK yang membuka program keahlian hanya berdasarkan animo masyarakat tanpa melihat kebutuhan industri lokal.
"Selama ini banyak SMK membuka kompetensi keahlian yang tidak terhubung dengan potensi unggulan daerahnya. Akibatnya, lulusan kesulitan terserap di pasar kerja lokal dan cenderung memilih urbanisasi. Data statistik menunjukkan 2030 adalah puncak bonus demografi; jika lulusannya tidak terpakai, untuk apa SMK itu dibuka?" tegas guru besar sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Teknik Unesa.
Menggunakan analisis berbasis data seperti Location Quotient (LQ) dan Shift Share, tim peneliti memetakan potensi unggulan hingga tingkat kecamatan. Di Lamongan misalnya, ditemukan karakteristik ekonomi yang sangat spesifik: Kecamatan Brondong unggul di sektor perikanan, sementara Bluluk memiliki potensi besar di pertanian dan peternakan.
Peta potensi ini menjadi dasar bagi Unesa dan UM yang juga melibatkan Universitas Madura Pamekasan (UNIRA) dan Pemkab Pamekasan ini untuk merumuskan rekomendasi kebijakan kepada Dinas Pendidikan Provinsi dan Pemerintah Daerah. Tujuannya jelas: agar kurikulum di sekolah selaras dengan kekayaan daerah, sehingga lulusan SMK bisa langsung menjadi motor penggerak ekonomi di kampung halamannya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Mitra RKI EQUITY LPPM UM, Hary Suswanto menekankan pentingnya hilirisasi produk lokal. Ia mencontohkan komoditas seperti lorjuk dan rumput laut yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah ke luar daerah.
"Kita dorong agar masuk ke industri olahan bernilai tinggi, seperti makanan kemasan hingga bahan baku kosmetik di daerah asal. Langkah ini penting untuk memutus ketergantungan pada pasar luar agar keuntungan ekonomi sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengentasan kemiskinan harus dimulai dengan memberdayakan masyarakat melalui potensi lokal. Jika anak petani yang lulus SMK mampu mengembangkan lahan orang tuanya dengan sentuhan teknologi dan manajemen modern, maka kesejahteraan akan meningkat dan urbanisasi akan terkendali.
Riset kolaboratif yang didukung oleh pendanaan LPDP tahun anggaran 2025-2026 ini diharapkan menjadi blueprint bagi pemerintah daerah dalam menyinkronkan dunia pendidikan dengan sektor industri, demi menyongsong Indonesia Emas 2045 yang berdaulat secara ekonomi. ][
***
Sumber: RKI EQUITY Unesa
Kurator: @zam*
Foto: Tim RKI EQUITY Unesa
Share It On: