Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

‘Physical Education Seminar’ Tegaskan Pentingnya Bangun Kebiasaan Aktif Anak Sejak Dini

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA— Kebiasaan aktif bergerak sejak usia dini tidak hanya penting untuk membangun kebugaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan membentuk pengalaman positif anak terhadap aktivitas fisik. Karena itu, guru pendidikan jasmani memiliki peran penting dalam membangun fondasi tersebut melalui pembelajaran yang bermakna.

Perspektif tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Physical Education Seminar yang diselenggarakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Ikatan Guru Olahraga Nasional (Igornas), 25 Agustus 2026 melalui Zoom Meeting. Seminar mengangkat tema “Holistic Youth Football Development: Optimizing the Role of Physical Education Teachers in Nutrition, Physiological, Physical and Motor Development.”

Profesor Psikologi Universitas Loughborough, Eef Hogervorst, mengatakan aktivitas fisik perlu dikenalkan dan dibiasakan sejak anak-anak. Salah satu aktivitas yang dapat digunakan untuk membangun kebiasaan tersebut adalah sepak bola.

Ia juga mendorong keterlibatan anak dalam aktivitas fisik di sekolah. Menurutnya, aktivitas olahraga perlu menjadi bagian dari kehidupan anak, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

“Sepak bola berkaitan dengan kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan. Oleh karena itu, olahraga ini seharusnya benar-benar dipromosikan di dalam maupun di luar sekolah, terutama bagi anak perempuan,” ungkapnya dalam bahasa Inggris.

Menurut Eef, aktivitas fisik juga berkaitan dengan kesehatan pada masa mendatang. Ia memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas berjalan kaki secara rutin dapat menurunkan risiko demensia. Di sisi lain, sepak bola juga memiliki aspek keselamatan yang perlu diperhatikan, terutama terkait cedera kepala dan traumatic brain injury.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan guru ketika peserta didik melakukan heading dalam permainan sepak bola. Pengembangan aktivitas fisik perlu berjalan bersama pemahaman mengenai risiko dan keselamatan peserta didik.

PJOK: Memastikan Anak Didik Aktif

Peran guru pendidikan jasmani dalam membangun kebiasaan aktif anak juga disoroti Moses Eleazar Ferdinandus dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Menurutnya, pendidikan jasmani tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan kebugaran, tetapi juga memberikan pengalaman gerak yang bermakna.

Ia memperkenalkan tiga pendekatan, yakni move, enjoy, dan connect. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik didorong untuk membangun hubungan positif dengan aktivitas fisik, menikmati olahraga, sekaligus mengembangkan interaksi sosial.

“Olahraga bukan hanya tentang kebugaran, tetapi juga tentang pengalaman gerak yang bermakna dan bagaimana aktivitas tersebut dapat menghubungkan kita satu sama lain,” ujarnya.

Menurut Moses, guru juga memiliki peran dalam menyiapkan peserta didik agar tetap aktif hingga masa mendatang melalui tiga prinsip, yakni prepare, prevent, dan perform.

Prepare dilakukan melalui penguatan literasi fisik dan keterampilan gerak sejak dini, prevent untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular dan dampak gaya hidup sedentari, sedangkan perform diarahkan pada peningkatan kapasitas belajar, bekerja, dan berkontribusi secara sosial.

Pakar Pendidikan Jasmani Universitas Negeri Semarang, Tandiyo Rahayu menambahkan, bahwa pendidikan jasmani di sekolah seharusnya menjadi fondasi bagi perkembangan keterampilan gerak anak, termasuk bagi mereka yang kelak ingin menekuni sepak bola secara lebih serius.

Menurutnya, keberhasilan pembelajaran PJOK tidak semata-mata diukur dari munculnya atlet berprestasi. Hal yang lebih mendasar adalah memastikan seluruh peserta didik memperoleh kesempatan untuk bergerak dan mengembangkan keterampilan fisiknya.

“Jauh lebih penting 40 anak satu kelas itu bergerak semua, menendang semua, dan berlari di lapangan semua. PJOK bukan akhir dari jalur sepak bola melainkan fondasi dari jalur menuju prestasi di sepak bola,” jelasnya.

Gizi dan Keselamatan Atlet Muda

Pengembangan sepak bola sejak usia dini juga tidak dapat dilepaskan dari aspek kesehatan dan gizi. Dietisien Cleonara Yanuar Dini membahas dukungan gizi terhadap kesehatan otak, termasuk dalam konteks risiko kerusakan otak akibat benturan kepala berulang pada pemain sepak bola.

Menurutnya, belum terdapat makanan atau suplemen tertentu yang secara pasti dapat mencegah demensia. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi sebaiknya tetap mengutamakan makanan sehari-hari yang bergizi dan seimbang.

“Belum ada satu makanan tertentu atau suplemen tertentu yang dapat secara pasti mencegah terjadinya demensia. Harapan khususnya bagi pemain-pemain muda kita, ini kita utamakan dari makanan real food terlebih dahulu dibandingkan dengan suplemen,” ungkapnya.][

***

Reporter: Dava Yessy Marshela (FBS)

Editor: @zam*

Foto: Tim Humas Unesa