
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) resmi membuka rangkaian "Bulan PPIS 2026" di Fakultas Hukum (FH), Kampus I Ketintang, pada Senin (13/4/2026). Mengangkat tema besar “Voices for Global Peace”, agenda ini menjadi respons nyata Unesa terhadap dinamika hukum dan politik internasional sekaligus komitmen menjaga kondusivitas internal kampus.
Wakil Rektor II Bidang Hukum, Ketatalaksanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha, Bachtiar Syaiful Bachri menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam menyuarakan pentingnya menjaga stabilitas dunia.
“Kampus dalam hal ini Unesa menjadi laboratorium untuk mencetak generasi yang aktif membawa pesan damai,” ucap guru besar pengembangan kurikulum Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) itu.
Ia menambahkan juga, sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Unesa memberikan garansi keamanan melalui langkah strategis bagi seluruh civitas academica di lingkungan kampus.
"Mahasiswa harus mendapatkan kepastian tentang kenyamanan selama belajar di kampus, mulai pagi hingga malam. Unesa adalah laboratorium yang menyiapkan generasi masa depan, maka keamanan fisik maupun psikis civitas adalah prioritas kami," tambahnya.

www.unesa.ac.id
Direktur PPIS Unesa, Mutimmatul Faidah memaparkan data menarik terkait angka pelaporan kekerasan yang masuk. Laporan ini, bukan menunjukkan kampus tidak aman, melainkan bukti keberanian sivitas akademika untuk speak up.
"Adanya laporan adalah bukti bahwa sistem keterbukaan informasi kita berjalan. Ketika kekerasan disuarakan, maka rantainya akan terputus karena korban mendapat pendampingan profesional dan pelaku menerima sanksi tegas sesuai aturan," jelasnya.
Unesa kini menyediakan layanan kesehatan mental dan pelaporan kekerasan 24 jam yang dapat diakses civitas, bisa secara digital maupun luring.
Kepala Subdirektorat Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK), Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, menyoroti munculnya tren kejahatan baru di era digital seperti sextortion (pemerasan seksual daring) hingga terjebak dalam toxic relationship.
Sesuai instruksi rektor, perlindungan mahasiswa kini melampaui batasan Tridarma Perguruan Tinggi. Satgas PPK kini turut meng-over tantangan pribadi mahasiswa yang berpotensi mengganggu kesehatan mental dan masa depan mereka.

www.unesa.ac.id
Di sisi lain, Dekan Fakultas Hukum, Arinto Nugroho memperkuat mitigasi ideologi ekstrem melalui Pusat Kajian Antiterorisme (PIKAT). Bekerja sama dengan Densus 88, lembaga ini aktif memantau dan menganalisis potensi paparan radikalisme, terutama pada kelompok mahasiswa baru yang tengah mencari jati diri.
"Diskusi ini bahkan menghadirkan mantan pelaku untuk memberikan gambaran nyata betapa rentannya mahasiswa baru terhadap pola rekrutmen kelompok radikal. Kita ingin mereka waspada sejak dini," ujar Arinto.
Sebagai simbol komitmen terhadap kedamaian, mahasiswa Unesa menuliskan pesan perdamaian dunia dalam secarik kertas yang nantinya akan dibukukan.
Rangkaian Bulan PPIS 2026 ini akan terus berlanjut dengan 17 agenda strategis lainnya di berbagai fakultas sepanjang April, mempertegas posisi Unesa sebagai institusi yang selalu "Satu Langkah di Depan" dalam menjaga martabat kemanusiaan. ][
***
Reporter: Dinda Aulia (Internship)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: