
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., SURABAYA—Pembelajaran kimia kerap dianggap sulit dan membosankan oleh sebagian peserta didik. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Kimia angkatan 2023 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan inovasi media pembelajaran berbasis permainan bertajuk Ular Tangga Koloid saat melaksanakan Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SMA Negeri 19 Surabaya.
Media pembelajaran tersebut dikembangkan tim yang terdiri dari Rafli Dwi Darmawan, Tasya Aulia Nur Rozi, Nisa Amirilia Syaharani, dan Silvy Eka Wijayanti selama pelaksanaan PLP yang berlangsung pada Februari hingga Juni 2026.
Anggota tim, Rafli Dwi Darmawan menjelaskan bahwa ide pembuatan media tersebut muncul setelah melakukan observasi dan wawancara dengan guru pamong mengenai karakteristik peserta didik di sekolah.
Dari hasil observasi, tim menemukan bahwa peserta didik cenderung mudah bosan apabila pembelajaran dilakukan dengan metode yang sama di setiap pertemuan.
Karena itu, Rafli dan tim menggagas media pembelajaran berupa game ular tangga yang tidak hanya memuat materi, tetapi juga tantangan dan aktivitas yang menyenangkan agar minat belajar mereka meningkat.
Menurutnya, inovasi tersebut juga menjadi upaya untuk mengubah stigma bahwa pembelajaran kimia identik dengan hafalan dan suasana belajar yang monoton.
Tim memilih pendekatan game-based learning karena dinilai sesuai dengan karakter peserta didik yang menyukai tantangan. Selain menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, metode permainan juga diyakini mampu membantu peserta didik menyimpan informasi dalam memori jangka panjang.
Konsep permainan yang dikembangkan tidak jauh berbeda dengan ular tangga pada umumnya. Peserta didik bermain menggunakan pion dan dadu secara berkelompok. Namun, setiap kotak yang dipijak berisi pertanyaan, tantangan, maupun studi kasus yang harus diselesaikan.
“Jika peserta didik berhasil menjawab pertanyaan atau menyelesaikan tantangan, mereka akan memperoleh poin dan melanjutkan permainan. Sebaliknya, jika belum berhasil, skor mereka akan berkurang dan harus tetap berada di kotak tersebut sampai menemukan jawaban yang benar,” jelas Rafli.
Anggota lainnya, Nisa Amirilia Syaharani, mengungkapkan bahwa respons peserta didik saat pertama kali menggunakan media tersebut sangat positif. “Mereka terlihat antusias dan penasaran karena pembelajaran dilakukan melalui permainan yang berbeda dari biasanya. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan membuat siswa lebih aktif terlibat,” katanya.
Salah satu peserta didik. Aulia Vandylla Zevani, siswi kelas XI, mengungkapkan pembelajaran terasa lebih menyenangkan dibandingkan metode yang biasa diterapkan di kelas.
“Ini pengalaman baru bagi kami. Kakak-kakak PLP sangat total dalam menyiapkan medianya. Pertanyaannya juga beragam sehingga tidak membosankan. Selain membuat lebih rileks, permainan ini membantu saya mengingat kembali materi koloid yang sudah dipelajari,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nico Adriano Syahputra. Menurutnya, pembelajaran melalui permainan membuat suasana kelas lebih hidup dan meningkatkan semangat belajar. “Belajar sambil bermain membuat saya lebih fokus. Saya juga jadi lebih aktif berdiskusi dengan teman kelompok dan lebih berani menjawab pertanyaan,” katanya. ][
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Rafli Dwi Darmawan Dkk.
Share It On: