
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Mahasiswa Program Studi S-1 Sastra Indonesia angkatan 2024, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses menggelar acara pemutaran film pada Kamis, 21 Mei 2026. Acara yang diadakan di Graha Sawunggaling, Kampus Lidah Wetan ini, menampilkan tiga film pendek hasil karya mahasiswa dari Mata Kuliah Ekranisasi.
Ketiga film tersebut merupakan hasil adaptasi dari novel-novel terkenal karya sastrawan senior Ahmad Tohari, yaitu “Di Ujung Pematang”, “Pakaryan”, dan “Sangkar yang Berpindah”.
Usai penayangan film, acara dilanjutkan dengan sesi sarasehan bersama tiga dosen pakar untuk membedah karya mahasiswa. Para penguji mengapresiasi keberhasilan mahasiswa dalam memotret masalah sosial dan budaya melalui kamera film.
Meski mendapat pujian, mahasiswa tetap mendapatkan penguatan penting agar ke depan lebih teliti pada detail cerita, seperti ketepatan latar tempat dan logat bahasa daerah, agar esensi asli dari novel tetap terjaga utuh.
Dosen pengampu mata kuliah, Ririe Rengganis, menjelaskan bahwa karya Ahmad Tohari sengaja dipilih agar mahasiswa belajar peduli pada kesengsaraan rakyat kecil dan paham bahwa urusan korupsi atau sistem pemerintahan yang rusak di masa lalu bisa saja terulang kembali saat ini.

www.unesa.ac.id
Sejalan dengan itu, Koordinator Prodi S-1 Sastra Indonesia, Parmin, menceritakan bahwa objek karya yang diadaptasi selalu berganti setiap tahunnya agar wawasan sastra mahasiswa semakin luas.
“Objek karya yang diadaptasi selalu berganti setiap angkatannya, rekam jejak mencatat kita pernah mengalihwahanakan karya penulis alumni Sastra Indonesia seperti Yusril Ihza, hingga sastrawan non-alumni seperti Royan Julian—Angkatan 2023 tahun lalu,” ujarnya.
Strategi keluar-masuk ini bertujuan untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai peta sastra Indonesia secara menyeluruh, sehingga adaptasi karya dalam berbagai wahana atau medium yang berbeda sebagai luaran mata kuliah diharapkan tetap dieksplorasikan menjadi agenda tahunan,” kata Parmin.

www.unesa.ac.id
Dekan FBS, Syafi’ul Anam. Ia bangga karena kuliah ini bisa mencetak pembuat film andal dari lulusan Sastra Indonesia yang siap bersaing di industri perfilman dunia.
Ia meminta agar nilai mahasiswa tidak hanya dilihat dari hasil akhir filmnya saja, melainkan dari proses panjang mereka dalam bekerja sama dan memecahkan masalah. Bahkan, sang Dekan membawa kabar gembira bahwa proyek film kelompok ini bisa diajukan sebagai pengganti skripsi.
Acara yang berlangsung seru ini ditutup dengan penampilan spesial dari KAJAWI, grup musik hip-hop berbahasa Jawa asal Ponorogo. Lagu populer mereka yang berjudul “Menteri Durmagati” dipilih menjadi musik pengiring dalam film mahasiswa yang berjudul “Pakaryan”.
Pihak KAJAWI mengaku bangga karena lagu dan film tersebut memiliki kesamaan visi, yaitu sama-sama mengkritik praktik korupsi di dalam sebuah proyek. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi kerja sama kreatif lainnya di masa depan. ][
Reporter: Tarisa Adistia (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: