
Unesa.ac.id., SURABAYA— Penggunaan kecerdasan artifisial atau AI dalam proses belajar mahasiswa mengubah cara perguruan tinggi melihat pembelajaran. Ketika mahasiswa semakin terbiasa memanfaatkan AI untuk mencari informasi dan menyelesaikan tugas, dosen tidak lagi cukup menilai hasil akhir, tetapi perlu melihat proses berpikir, kemampuan bernalar, serta cara mahasiswa mengkritisi dan mempertanggungjawabkan hasil yang diperoleh.
Hal itulah yang juga dibahas dalam The International Conference on Cultural Studies and Applied Linguistics (ICCSAL) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara daring pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Konferensi internasional edisi ketujuh tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, dan peserta dari berbagai negara untuk membahas perkembangan bahasa, budaya, pendidikan, industri kreatif, dan teknologi di era digital.
Mengusung tema “Culturally Adaptive Futures: Linguistic Innovation, Creative Industries, and Sustainable Education in a Digital Global Era”, ICCSAL 2026 menjadi ruang untuk membahas bagaimana bahasa, budaya, dan pendidikan beradaptasi terhadap perubahan teknologi sekaligus tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satu pembicara utama, Deshinta Arrova Dewi dari INTI International University, Malaysia, menyoroti perubahan perilaku belajar mahasiswa yang berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan sistem asesmen di perguruan tinggi. Menurutnya, penggunaan AI dalam pembelajaran membuat dosen perlu merancang bentuk asesmen yang tetap mampu memastikan mahasiswa menjalani proses belajar secara aktif.
“Pertanyaan utamanya adalah bagaimana memastikan mahasiswa tetap belajar ketika AI telah menjadi bagian dari proses pembelajaran,” ujarnya.
Menurut Deshinta, asesmen di era AI tidak cukup hanya berfokus pada jawaban akhir. Dosen perlu melihat bagaimana mahasiswa menggunakan teknologi tersebut, mengkritisi hasilnya, melakukan perbaikan, serta menjelaskan alasan di balik jawaban yang dihasilkan.
“Kita perlu menilai kemampuan manusia dalam bernalar, bukan hanya jawaban akhirnya,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong penggunaan bukti-bukti autentik dalam proses penilaian, seperti draf, refleksi, dan tahapan pengerjaan. Pendekatan tersebut memungkinkan dosen melihat proses berpikir mahasiswa sekaligus memastikan teknologi AI digunakan sebagai bagian dari pembelajaran, bukan menggantikan proses belajar itu sendiri.

Selain membahas perubahan pembelajaran akibat AI, ICCSAL 2026 memperluas diskusi pada perubahan cara manusia berkomunikasi dan membangun makna melalui ruang budaya. Pembicara utama lainnya, Sophia Diamantopoulou dari UCL Institute of Education, University College London, United Kingdom, membahas kekayaan komunikasi multimodal dan penerapan semiotika sosial multimodal dalam kajian museum.
Menurut Sophia, museum tidak hanya menyampaikan pengetahuan melalui bahasa atau teks. Ruang, artefak, desain, arsitektur, hingga pergerakan pengunjung ikut membentuk pengalaman dan pemaknaan terhadap suatu pengetahuan.
Ia menjelaskan, pengalaman pengunjung menjadi bagian dari proses pembelajaran dan komunikasi yang melibatkan tubuh serta berbagai sumber daya di dalam ruang museum. Penataan koleksi, desain ruang, interaksi dengan benda, hingga lingkungan sekitar dapat memengaruhi cara seseorang memahami informasi dan membangun pengalaman budaya.
Perkembangan teknologi digital juga memperluas bentuk komunikasi museum melalui pameran daring, media interaktif, hingga teknologi augmented reality. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi budaya semakin berkembang melalui berbagai moda dan tidak lagi bergantung pada satu bentuk penyampaian.

Ketua Panitia ICCSAL 2026, Prima Vidya Asteria, mengatakan konferensi tersebut diikuti 224 peserta dengan 38 presentasi penelitian. Menurutnya, perkembangan teknologi yang mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, dan berkolaborasi membuat pemahaman lintas budaya serta dialog antarbidang ilmu semakin penting.
ICCSAL 2026 juga mempertemukan kajian bahasa, budaya, dan warisan budaya melalui kolaborasi FBS Unesa dengan PUI-PT Seni Budaya Majapahitan. Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang presentasi penelitian, tetapi juga membuka peluang pertukaran gagasan dan pengembangan kemitraan akademik lintas negara.
Wakil Rektor IV Unesa, Dwi Cahyo Kartiko, mengatakan penyelenggaraan ICCSAL menjadi bagian dari upaya Unesa mendorong perkembangan ilmu pengetahuan di bidang bahasa, budaya, linguistik terapan, dan humaniora. Menurutnya, perubahan yang berlangsung cepat menuntut komunitas akademik untuk terus beradaptasi dan menghasilkan kajian yang relevan.
“Ini bukan sekadar forum akademik, tetapi menjadi ruang untuk melihat bagaimana bahasa, budaya, dan pendidikan dapat merespons serta beradaptasi dengan perubahan dunia yang semakin cepat,” ujarnya. ][
***
Reporter: Lina Lubabatul Karimah






