
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Magetan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dalam program peningkatan kemampuan numerasi siswa melalui pelatihan metode Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) yang digelar di Pendopo Surya Graha Magetan pada Senin, 4 Mei 2026.
Program tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi pendidikan dasar, khususnya kemampuan matematika siswa yang dinilai masih menjadi tantangan nasional. Kegiatan ini melibatkan guru, siswa, serta berbagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia yang lebih unggul.
Rektor Unesa, Nurhasan atau yang akrab disapa Cak Hasan, menegaskan bahwa penguatan numerasi menjadi kebutuhan mendesak di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat. Menurutnya, hasil berbagai tes kompetensi menunjukkan masih adanya persoalan serius pada penguasaan matematika, sains, dan bahasa Inggris.
“Ini adalah sinyal yang harus kita tangkap bersama. Numerasi menjadi fondasi penting agar anak-anak kita mampu melangkah lebih jauh dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) itu menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendukung penguatan kompetensi tersebut melalui penelitian, pelatihan, hingga pengembangan model pembelajaran yang efektif. Unesa, kata dia, berkomitmen menjadi mitra strategis daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kalau persoalan numerasi ini tidak segera diperkuat, maka akan menjadi persoalan besar ke depan. Karena itu, semua disiplin ilmu harus mengarah pada penguatan kompetensi dasar ini,” katanya.

www.unesa.ac.id
Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, menyambut baik kolaborasi tersebut dan memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya Bappenas, Unesa, dan Gasing Academy yang menghadirkan program tersebut di Kabupaten Magetan.
Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, inovasi dalam pembelajaran sangat diperlukan agar siswa lebih mudah memahami materi, khususnya matematika.
“Kami berharap ilmu pengetahuan dan keterampilan ini segera disularkan kepada guru-guru lainnya sehingga metode Gasing dapat diterapkan lebih luas dan diikuti seluruh siswa di Kabupaten Magetan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menekankan bahwa persoalan numerasi bukan sekadar ketertinggalan akademik, melainkan masalah fondasi berpikir bangsa.

www.unesa.ac.id
“Masih banyak siswa yang belajar setiap hari, tetapi belum benar-benar memahami. Yang penting bukan sekadar posisi, tetapi pemahaman yang sesungguhnya yang terjadi di kepala anak-anak kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan pendidikan modern menekankan bahwa pengetahuan harus dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman belajar yang bermakna. Salah satu konsep penting adalah sense of number atau rasa bilangan, yakni kemampuan memahami angka secara intuitif, bukan sekadar menghafal rumus.
“Kalau anak hanya hafal rumus tanpa memahami konsep, sebenarnya dia belum belajar. Di sinilah metode Gasing menjadi sangat relevan karena mendorong pemahaman bertahap dan menyenangkan,” jelasnya.
Pendiri Gasing Academy, Yohanes Surya, mengatakan metode Gasing dirancang agar siswa merasa bahagia saat belajar matematika. Suasana kelas dibuat aktif, riuh, penuh permainan, lagu, dan interaksi sehingga siswa tidak lagi takut terhadap angka.
“Kalau kelasnya tidak gaduh, tidak ramai, itu bukan Gasing. Anak-anak harus bermain, bernyanyi, tertawa, dan merasa senang. Karena kalau mereka bahagia, mereka akan lebih mudah belajar,” katanya.
Ia mengapresiasi kecepatan koordinasi antara Unesa, Pemkab Magetan, dan Bappenas dalam menghadirkan pelatihan tersebut. Menurutnya, hanya dalam waktu dua minggu sejak perencanaan, program sudah dapat dilaksanakan.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan lahir perubahan nyata dalam cara belajar siswa dan cara mengajar guru, sehingga numerasi tidak lagi menjadi momok, melainkan pintu menuju masa depan yang lebih kuat bagi generasi muda Indonesia. [ ]
Penulis: Puput
Share It On: