
Dua mahasiswa Unesa meraih Gold Medal di Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 .
Unesa.ac.id., SURABAYA— Dua mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil meraih Gold Medal pada ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 yang diselenggarakan dalam rangka Thailand Inventors’ Day 2026.
Ajang ini diselenggarakan National Research Council of Thailand (NRCT) pada 5-9 Januari 2026 yang diikuti lebih dari 100 tim dari berbagai institusi di Indonesia dan diikuti 873 tim dari 29 negara, mulai dari perguruan tinggi, siswa SMA, hingga institusi non-akademik seperti Pertamina.
Dua mahasiswa Unesa yang tergabung dalam tim peraih Gold Medal tersebut adalah Dustin Favian Baihaqi, mahasiswa S-1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) angkatan 2023, dan Muhammad Fariz Abid Ramadhana, mahasiswa S-1 Sains Data Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) angkatan 2023.
Tim ini juga melibatkan empat mahasiswa dari Universitas Airlangga (Unair), yakni Aulia Rahmah Fitriah dan Iriena Feyza Zafira Rosyidi dari Prodi Farmasi, Fionna Nur Illahi dari Prodi Ekonomi Islam, serta Raihan Adz Dzikra dari Prodi Hukum. Selain itu, juga melibatkan Topan Suryadi Laga dari Prodi Informatika Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Dustin menjelaskan bahwa inovasi yang mereka kembangkan berjudul HerblocX: Transforming Herbal Raw Material Export with Blockchain Technology, sebuah platform marketplace ekspor-impor komoditas herbal berbasis teknologi blockchain yang dirancang untuk menjamin transparansi data, keamanan transaksi, serta kepercayaan pasar internasional terhadap produk herbal Indonesia.

www.unesa.ac.id
Dalam pengembangan inovasi tersebut, ia berperan pada aspek perancangan model bisnis dan perencanaan finansial, mulai dari penyusunan proyeksi keuangan, analisis kebutuhan pendanaan, hingga strategi pengembangan agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga layak dan berkelanjutan secara bisnis.
“Inovasi HerblocX kami kembangkan berangkat dari permasalahan nyata di industri herbal Indonesia, khususnya pada rantai pasok dan transparansi data. Banyak produk herbal Indonesia memiliki potensi besar, tetapi masih menghadapi kendala kepercayaan di pasar internasional karena sulitnya verifikasi asal-usul, kualitas, dan rekam jejak transaksi,” terangnya.
Sementara itu, Fariz Abid Ramadhana berkontribusi sebagai Backend Developer yang bertanggung jawab pada pengembangan logika sistem berbasis blockchain, termasuk pengelolaan alur transaksi dan validasi data.
Fariz mengungkapkan keilmuan sains data yang dimilikinya diterapkan dalam perancangan struktur data, analisis kebutuhan sistem, serta pengolahan data transaksi agar seluruh data produk, pelaku usaha, pembeli, dan riwayat transaksi tersimpan secara terstruktur, aman, dan dapat diverifikasi.
Dustin menambahkan, kolaborasi lintas disiplin dan lintas kampus tersebut menjadikan HerblocX dikembangkan secara komprehensif, tidak hanya sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai solusi aplikatif yang memiliki potensi implementasi nyata di sektor ekspor-impor herbal Indonesia.
Ke depan, timnya berencana menyempurnakan pengembangan platform agar semakin matang dan siap diterapkan, sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan mitra industri dan investor untuk mendukung implementasi dan keberlanjutan inovasi tersebut.
“Kami ingin menyempurnakan aspek teknis platform HerblocX agar lebih matang, aman, dan siap diterapkan secara lebih luas,” tambahnya.
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Tim HerblocX
Share It On: