
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Dua mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi delegasi dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan XIII Tahun 2025 di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai 1 Juli sampai 30 Juli 2025. Mereka adalah Dawamur Rozaq (Prodi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar) dan Tarissa Aditya Berlin Sunyoto (Prodi S-1 Pendidikan IPS).
Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Belmawa Dikti, Kemendiktisaintek ini memberikan banyak manfaat bagi keduanya. Dawamur Rozaq atau yang akrab disapa Rozaq, mengikuti KKN Kebangsaan di lokasi Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Pangkajene Kepulauan, (Pulau Kapoposang).
Kondisi Daerah
Daerah tersebut merupakan salah satu daerah terpencil di Sulawesi Selatan dengan keterbatasan akses terhadap listrik dan jaringan internet. Rozaq menyatakan, listrik hanya menyala pada pukul 18.00 sampai 23.00 WIT, itu pun jika sinar matahari optimal.
Akses transportasi juga sulit, perlu waktu tempuh sekitar 6-7 jam naik kapal dari Pelabuhan di Makassar. Salah satu yang menjadi keprihatinan bagi Rozaq adalah di pulau tersebut tidak terdapat sekolah SMP. Sehingga bagi siswa yang telah lulus SD dan hendak melanjutkan pendidikan harus menyeberang ke pulau lain atau ke Makassar.
“Di sini juga sangat kekurangan guru dari kelas 1 sampai kelas 6. Kelas 1 sama 2 itu digabung, kelas 3 sama 4 digabung, dan kelas 5 sama 6 pisah, jadi cuma ada 4 kelas dan cuma ada 3 guru.
Kekurangan Guru

www.unesa.ac.id
Sedangkan guru yang bener-bener aktif itu cuma 1 karena 2 guru lainnya itu rumahnya di Makassar, sehingga mereka tuh harus menyeberang-menyeberang begitu. Bahkan, Upacara bendera itu juga jarang sekali dilaksanakan Karena keterbatasan yang ada” ungkapnya.
Tak hanya itu, dikarenakan akses dan keterbatasan yang ada membuat para siswa SDN 12 Kapoposang, satu satunya SD di pulau tersebut jarang mengetahui lagu-lagu wajib nasional.
“Program Kerja (Proker) individu aku berjudul “Nada Cinta Tanah Air” di mana siswa SD tersebut dibiasakan untuk menyanyikan lagu wajib dan memupuk nasionalisme. Karena banyak dari siswa SD tersebut yang malah hafal lagu TikTok daripada lagu wajib nasional” jelasnya.
Branding Destinasi Wisata
Sementara untuk program kerja (proker) kelompok, Rozaq dan tim mengangkat tema Digital Branding Desa Wisata. Mereka membuat promosi paket-paket pariwisata di media sosial, sosialisasi pembuatan kripik sukun dan kerajinan kerang untuk oleh-oleh, dan literasi keuangan pariwisata.
Berbeda, Tarissa Aditya Berlin Sunyoto mendapatkan lokasi KKN Kebangsaan di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Desa tersebut dikelilingi pegunungan karst, dan tempat lukisan tertua di dunia, sehingga memiliki potensi sangat besar untuk wisata.
Proker utama yang dikerjakan Tarissa dan tim terkait dengan potensi Jenetaesa adalah desa yang terkenal dengan kupu-kupu. Sehingga proker utama berkaitan dengan konservasi kupu-kupu.
Kegiatan Konservasi

www.unesa.ac.id
Mereka mengarahkan dan membimbing delegasi dari sekolah-sekolah yang ada di Jenetaesa mulai dari SD, SMP, SMK, dan MA, agar menjadi “Pasukan Konservasi Kupu-kupu”. Tak hanya itu, mereka membantu UMKM yang bergerak di bidang cinderamata kupu-kupu dalam hal branding dengan membuat video kegiatan konservasi agar ikon Jenetaesa yaitu kupu-kupu tetap lestari.
“Kemudian proker utama kami juga mengenai pemasangan SOP di area lukisan tertua di dunia, yang mana masih termasuk wisata terbatas sehingga tidak boleh asal masuk harus bersurat maka dari itu kita memasang papan SOP dan membantu branding wisata-wisata yang ada di Jenetaesa” tukasnya.
Ditambah , program kerja individu Tarissa yaitu mengajar di sekolah dengan materi konservasi kupu-kupu serta mengajar sejarah Desa Jenetaesa dengan output berupa poster.
Tarissa dan Rozaq menyatakan bahwa KKN Kebangsaan ini memberikan banyak pengalaman dan pengajaran berharga terutama mereka dapat dipertemukan dengan berbagai orang-orang hebat, organisatoris, pemikir kritis dari berbagai daerah di Indonesia. []
***
Reporter: Muhammad Azhar Adi Mas’ud (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Dawamur Rozaq dan Tarissa Aditya Berlin Sunyoto
Share It On: