
Unesa.ac.id., SURABAYA—Selama empat bulan menjalankan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari September hingga Desember 2025, tim KKN-T Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang bertempat di Desa Petung, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik ini menghadirkan inovasi pengelolaan sampah melalui pembangunan incinerator ramah lingkungan.
Pembangunan incinerator atau alat pemusnah limbah ini menjadi program fokus utama tim dalam menjawab persoalan sampah rumah tangga yang selama ini belum tertangani secara optimal di desa tersebut.
Dari tangan-tangan kreatif 16 mahasiswa lintas disiplin ilmu, inovasi tersebut diwujudkan melalui perancangan dan pembangunan incinerator yang sepenuhnya dikembangkan sendiri oleh tim. Mereka berasal dari berbagai program studi seperti Manajemen, Ekonomi, Akuntansi, PJKR, Ilmu Keolahragaan, hingga Teknik Sipil.
Ketua KKNT, Cynthia Anddyus Ekaputri menjelaskan ide pengembangan incinerator berawal dari observasi lapangan yang menunjukkan bahwa masyarakat masih mengelola sampah secara tradisional, seperti membakar sampah di pekarangan atau membuangnya ke lahan terbuka.
Cara tersebut menimbulkan asap hitam pekat, bau menyengat, hingga potensi risiko kesehatan seperti ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut.
“Pembakaran terbuka berlangsung pada suhu rendah dan menghasilkan senyawa berbahaya. Karena itu, tim merasa perlu menghadirkan teknologi pembakaran terkontrol yang lebih aman dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Incinerator yang dikembangkan memiliki sistem dua ruang bakar. Ruang bakar primer berfungsi untuk pembakaran awal pada suhu hingga 800°C, sementara ruang bakar sekunder digunakan untuk membakar ulang gas berbahaya pada suhu lebih tinggi.
Model ini memungkinkan pembakaran lebih sempurna dan mengurangi senyawa beracun seperti dioksin serta furan. Alat ini juga dilengkapi pengendali polusi sederhana berupa wet scrubber sehingga gas buang lebih bersih dan aman.

“Dengan sistem ini, residu yang tersisa hanya sekitar 10 persen dari volume sampah awal, sehingga cukup efisien dan minim polusi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Cynthia menambahkan timnya juga telah menyiapkan pelatihan agar masyarakat dapat mengoperasikan incinerator secara mandiri setelah program KKN selesai.
“Kendalanya yakni pemindahan lahan dan proses koordinasi dengan perangkat desa yang membutuhkan waktu dan penyesuaian. Namun, hal itu tidak mengurangi antusiasme kami maupun warga untuk segera mengimplementasikan teknologi ini. Kami tetap optimistis karena dukungan masyarakat sangat besar,” jelasnya.
Kepala Desa Petung, Muhammad Mas’ud, mengapresiasi langkah inovatif mahasiswa KKN-T Unesa tersebut. Menurutnya, kehadiran incinerator menjadi jawaban atas persoalan sampah yang selama ini belum terselesaikan secara efektif di desa.
“Kami sangat mengapresiasi upaya mahasiswa Unesa yang tidak hanya datang membawa program, tetapi juga solusi nyata untuk kebutuhan masyarakat,” ucapnya.
Selain program utama incinerator, tim KKN-T Unesa ini juga mengembangkan dua program pendukung lainnya untuk memperkuat ekosistem pengelolaan lingkungan di Desa Petung. Program hidroponik diperkenalkan sebagai langkah mendorong kemandirian pangan rumah tangga melalui budidaya sayuran seperti pakcoy dan selada yang mudah dirawat serta memiliki nilai jual tinggi.
Sementara itu, sistem bank sampah yang diterapkan dengan membentuk unit di setiap RT agar proses pemilahan dan penimbangan sampah dapat dilakukan lebih dekat, teratur, dan memberikan nilai ekonomi bagi warga. “Kami ingin masyarakat memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur, pangan yang lebih mandiri, serta kesadaran lingkungan yang semakin meningkat,” tutup Cynthia. []
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim KKN-T UNesa






