
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi pengembangan dunia pendidikan global, tak terkecuali dalam pengajaran disiplin ilmu eksakta seperti Fisika. Isu krusial ini menjadi bahasan utama dalam paparan pakar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) saat memberikan keynote speech dalam International Scientific Conference of Students and Young Scientists (ISC-SYS) “Farabi Alemi” yang dilaksanakan Al-Farabi Kazakh National University, Kazakhstan, pada Selasa, 7 April 2026.
Dalam forum daring yang mempertemukan peneliti muda dari berbagai negara seperti Kazakhstan dan Turki tersebut, guru besar sekaligus Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah Unesa, Nadi Suprapto memaparkan tentang “Artificial Intelligence vs Students: A Comparative Study of Physics Misconceptions”. Riset ini membedah sejauh mana AI generatif mampu bersaing dengan pemahaman konseptual manusia dalam memecahkan persoalan fisika yang kerap menjebak mahasiswa dalam miskonsepsi.
Peneliti yang masuk dalam jajaran Top 2% World Scientist 2025 by Stanford-Elsevier itu menjelaskan bahwa miskonsepsi diartikan sebagai kesalahpahaman konsep yang dimiliki siswa dan dapat berdampak langsung pada performa akademik serta kemampuan berpikir ilmiah. Oleh karena itu, identifikasi kesalahan konsep menjadi langkah penting, termasuk dengan memanfaatkan teknologi AI sebagai alat bantu pembelajaran.
Penelitian tersebut melibatkan 11 partisipan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, yakni lima mahasiswa sarjana, tiga mahasiswa magister, dan tiga mahasiswa doktoral. Selain itu, dua platform AI generatif, yaitu ChatGPT dan Gemini AI, digunakan sebagai pembanding dalam menjawab soal-soal fisika yang sama.
Instrumen penelitiannya berupa kuis berbasis konsep fisika. Kuis pertama mengangkat kasus gerak parabola melalui ilustrasi pelempar lembing. Kuis kedua membahas gerak peluru menggunakan ketapel dengan fokus pada pengaruh massa terhadap ketepatan sasaran. Sementara itu, kuis ketiga menguji pemahaman terkait waktu pelepasan bom dari pesawat serta faktor-faktor yang memengaruhi waktu jatuh benda dalam gerak vertikal.

www.unesa.ac.id
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan karakteristik jawaban antara mahasiswa dan AI. Mahasiswa cenderung memberikan jawaban deskriptif dengan pemahaman konsep yang terbatas dan belum didukung penjelasan matematis yang kuat. Bahkan, sebagian jawaban masih mengandung miskonsepsi.
Di sisi lain, AI mampu memberikan penjelasan yang lebih komprehensif dengan mengacu pada konsep ilmiah seperti hukum Newton, prinsip inersia, serta independensi gerak horizontal dan vertikal dalam gerak peluru. Namun, AI juga memiliki keterbatasan karena sering memberikan jawaban yang terlalu luas, keluar dari konteks soal, dan masih berpotensi mengandung miskonsepsi sehingga memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) itu menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan dua sisi dalam pemanfaatan AI dalam praktek pendidikan. AI dapat membantu memberikan penjelasan konseptual yang lebih komprehensif, tetapi tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan. “Oleh karena itu, peran pendidik tetap krusial dalam memvalidasi dan mengarahkan pemahaman siswa,” ujarnya.
Konferensi “Farabi Alemi” diikuti oleh akademisi, peneliti muda, serta mahasiswa doktoral dari berbagai negara seperti Kazakhstan, Turki, dan Indonesia. Forum ini membahas beragam topik, mulai dari pemanfaatan AI dalam pembelajaran fisika, gamifikasi pendidikan, hingga transformasi pelatihan guru di era digital.
Kiprah dosen Unesa di panggung internasional ini juga menjadi manifestasi nyata komitmen universitas dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin pendidikan berkualitas (quality education) dan kemitraan untuk mencapai tujuan (partnerships for the goals). ][
***
Pengolah: Puput
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: