
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Hari Kesehatan Sedunia atau World Health Day (WHD) diperingati setiap 7 April. Peringatan yang menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) itu mengusung tema "Bersama untuk Kesehatan. Berdiri Bersama Sains.”
Menurut Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Nurhasan atau Cak Hasan, tema tersebut menegaskan bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dikelola berdasarkan asumsi atau dugaan semata, melainkan harus berpijak pada fondasi sains yang kokoh.
Kata "Bersama" menyiratkan solidaritas dan tanggung jawab bersama. Sementara "Sains" menjadi kompas pemandu agar langkah kolektif kita menuju hidup sehat tetap berada di jalur yang benar dan terukur.
Memahami Kembali Makna Sehat
Lebih jauh, Cak Hasan menekankan bahwa Hari Kesehatan Sedunia menjadi pengingat bagi masyarakat untuk kembali memaknai apa itu sehat yang sesungguhnya. Menurutnya, sehat bukanlah sekadar kondisi tidak adanya gejala penyakit atau tubuh yang "tidak merasakan keluhan apa-apa.”
Padahal sehat tidak bisa lepas dari kebugaran. “Kita merasa sudah sehat hanya karena belum jatuh sakit atau belum muncul gejala penyakit tertentu. Sehat harus ditopang dengan kebugaran,” ucapnya pada Selasa, 7 April 2026.
Menggunakan perumpamaan, Cak Hasan mengibaratkan tubuh manusia seperti sebuah kendaraan. Mesin yang terlihat tidak rusak atau tampak sehat, belum tentu memiliki tenaga yang kuat saat diajak menanjak atau berlari jauh.
“Di sinilah pentingnya memahami bahwa olahraga merupakan sebuah keharusan. Saya tekankan lagi olahraga itu wajib untuk kesehatan dan kebugaran,” tandas guru besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa itu.
Keharusan Olahraga bagi Semua
Cak Hasan menyoroti masih banyaknya masyarakat yang cenderung memahami olahraga hanya bagi mereka yang sudah masuk klinik kesehatan atau ruang perawatan rumah sakit, padahal olahraga itu wajib dilakukan siapapun, karena itu merupakan kebutuhan dan hak tubuh.
Secara saintifik, olahraga adalah laboratorium kesehatan dan kebugaran yang paling jujur. ‘Bengkel kesehatan’ bukan hanya ada di klinik atau rumah sakit yang bersifat kuratif, melainkan di jogging track, lintasan lari, hingga gang-gang perumahan yang dibasahi keringat karena gerak.
“Di laboratorium terbuka inilah, seluruh elemen, bagian, dan mekanisme tubuh kita dilatih dan diperkuat,” tandas Cak Hasan.
Pentingnya Komunitas Olahraga
Sejalan dengan semangat "Bersama untuk Kesehatan", Cak Hasan juga mendorong tumbuhnya gerakan olahraga di tengah masyarakat melalui komunitas-komunitas kecil. Maraknya kelompok jalan kaki, grup lari, hingga komunitas senam, klub olahraga yang tumbuh organik di masyarakat harus terus digelorakan agar tidak sekadar menjadi tren sesaat.
Ia berharap spirit ini menular ke lebih banyak orang. Targetnya bukan hanya bergabung dengan komunitas yang sudah ada, tetapi berani menginisiasi gerakan baru di lingkungannya masing-masing.
"Kita ingin semakin banyak gerakan olahraga tumbuh dari bawah. Jangan menunggu fasilitas mewah; cukup mulai dari gang depan rumah bersama tetangga dan teman. Karena olahraga adalah investasi bagi kesehatan itu sendiri. Mulai sekarang, kurangi rebahan, mulai olahraga. Kita sehat, bangsa kuat,” ajak Cak Hasan. ][
Share It On: