
Prof. Dr. Wiwik Sri Utami, M.P, dikukuhkan sebagai guru besar penilaian pembelajaran geografi berbasis HOTS, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 29 Desember 2025.
Unesa.ac.id. SURABAYA—Dunia pendidikan geografi tengah memasuki era transformasi besar, bergeser dari sekadar metode hafalan menuju pemaknaan mendalam. Pakar Penilaian Pembelajaran Geografi berbasis HOTS, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Wiwik Sri Utami, M.P., menegaskan bahwa paradigma pembelajaran abad ke-21 menuntut siswa untuk tidak lagi hanya menjadi perekam informasi, melainkan subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui pengalaman dan refleksi.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Dari Hafalan Menuju Pemaknaan: Transformasi Penilaian Pembelajaran Geografis Berbasis HOTS untuk Membangun Literasi dan Kesadaran Spasial Abad ke-21,” Desember 2025 lalu, dosen yang menakhodai Fisipol itu menyoroti kelemahan penilaian konvensional yang sering kali terjebak pada pengukuran reproduksi informasi.
Orientasi pembelajaran yang hanya menilai apa yang diingat, bukan bagaimana siswa berpikir, ditengarai menjadi penyebab kemerosotan makna dalam belajar. Sebagai solusi, ia mendorong implementasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) sebagai kunci transformasi asesmen.
HOTS dalam geografi bukan sekadar instrumen kognitif, melainkan alat kesadaran untuk membangun literasi dan kesadaran spasial. Keterampilan ini mencakup kemampuan analisis, evaluasi, hingga kreasi. Dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi, siswa diajak untuk tidak hanya mengetahui letak suatu wilayah, tetapi mampu menafsirkan peta, memahami pola keruangan, mengevaluasi dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, hingga merancang solusi spasial yang berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa berpikir tingkat tinggi di bidang geografi tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga mencakup dimensi spasial dan ekologis. Tantangan saat ini adalah beralih dari penilaian lama yang menekankan pengetahuan faktual menuju penilaian autentik berbasis pemecahan masalah spasial (spatial problem solving).
Penilaian berbasis HOTS adalah instrumen strategis untuk mengukur sejauh mana peserta didik bukan sekadar mengetahui fakta, tetapi mampu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta solusi terhadap masalah spasial dan sosial. HOTS menekankan pada kemampuan menghubungkan konsep, mentransfer pengetahuan, mengaplikasikannya dalam konteks baru.
Penilaian model ini mencakup tiga dimensi utama. Pada level analisis, siswa ditantang menguraikan hubungan antarvariabel seperti curah hujan dan kepadatan penduduk. Pada level evaluasi, siswa menilai efektivitas kebijakan mitigasi bencana. Sementara pada level kreasi, siswa dituntut mendesain solusi inovatif, seperti rancangan tata kota hijau atau sistem pemetaan risiko banjir.
Implementasi ini menuntut pendekatan authentic assessment, di mana siswa dinilai berdasarkan kemampuannya menerapkan pengetahuan pada konteks dunia nyata, seperti menganalisis citra satelit atau memetakan perubahan lahan. Menurut Wiwik Sri Utami, penilaian seperti ini tidak hanya mengasah kognisi, tetapi juga menumbuhkan empati ekologis dan kesadaran spasial yang menjadi nilai inti pendidikan geografi berkelanjutan.
"Asesmen yang baik bukan hanya menilai hasil, tetapi juga mengarahkan cara belajar. Melalui HOTS, siswa didorong untuk memberikan argumen logis berbasis bukti empiris guna menjawab tantangan zaman," pungkasnya. ][
***
Reporter: Saputra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: