Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Guru Besar FMIPA: AI Bisa Memberi Jawaban, Pendidik Harus Mengambil Peran Lebih Tinggi

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA— Ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mudah digunakan mahasiswa untuk mencari informasi, menyusun tugas, menganalisis data, hingga membuat program komputer, perguruan tinggi perlu meninjau kembali cara dosen menjalankan perannya. Bukan untuk bersaing dengan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut tetap digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir manusia.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Madlazim menilai perubahan tersebut menuntut pendidik melakukan reposisi tugas. Menurutnya, ketika akses terhadap pengetahuan semakin cepat dan luas, pendidik tidak lagi cukup berperan sebagai sumber utama informasi, tetapi perlu menjadi pembimbing yang membantu siswa atau mahasiswa berpikir kritis dan bertanggung jawab.

“AI dapat memberikan jawaban, tetapi dosen harus mengajarkan bagaimana menilai jawaban. AI dapat menyediakan informasi, tetapi dosen harus mengajarkan bagaimana memverifikasinya. AI dapat menawarkan banyak alternatif, tetapi dosen harus membimbing anak didiknya menentukan pilihan yang benar, relevan, etis, dan bermanfaat,” ujarnya.

Peningkatan Literasi AI

Menurutnya, penggunaan AI di kalangan siswa bahkan mahasiswa merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, melarang penggunaannya secara total bukan menjadi solusi. Pendekatan tersebut justru berisiko membuat hubungan akademik berubah menjadi upaya saling mengawasi antara pendidik dan peserta didik.

Yang lebih penting, menurutnya, adalah membangun literasi AI agar peserta didik mampu menggunakan teknologi secara etis, transparan, dan bertanggung jawab. Peserta didik perlu memahami batas penggunaan AI, memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan, menjaga privasi data, menghindari ketergantungan, serta tetap mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

Perubahan tersebut sekaligus perlu diikuti dengan pergeseran peran pendidik. Jika sebelumnya banyak berfungsi sebagai knowledge provider, era AI menuntut pendidik menjadi thinking mentor yang membangun kemampuan peserta didik dalam bertanya, bernalar, menguji bukti, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.

“Ketika peserta didik kita dapat meminta AI menjelaskan sebuah teori hanya dalam beberapa detik, pendidik tidak mungkin lagi mengandalkan peran tradisional sebagai sumber utama informasi,” jelasnya.

Konsekuensinya, desain pembelajaran juga perlu berubah. Tugas yang hanya meminta rangkuman, definisi, atau esai generik semakin mudah dikerjakan dengan bantuan AI. Sebaliknya, pendidik dapat memperbanyak tugas yang menuntut peserta didik melakukan analisis, studi kasus, eksperimen, proyek, observasi lapangan, pemecahan masalah, hingga presentasi yang membutuhkan argumentasi.

Dengan pola tersebut, AI tetap dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi tanggung jawab intelektual tetap berada pada peserta didik.

Penguatan Karakter dan Berpikir Kritis

Perubahan juga diperlukan dalam sistem penilaian. Menurutnya, kemampuan menghasilkan jawaban tertulis tidak lagi cukup menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Proses berpikir peserta didik perlu mendapat ruang lebih besar melalui diskusi, presentasi, portofolio, proyek, demonstrasi, maupun oral defense.

Namun, reposisi tersebut tidak hanya berlaku bagi peserta didik. Pendidik juga perlu meningkatkan kompetensi AI sesuai bidang keilmuannya. Tidak semua pendidik harus menjadi programmer, tetapi pemahaman mengenai kemampuan, keterbatasan, risiko, dan pemanfaatan AI menjadi semakin penting.

Karena itu, pendidik perlu meninjau kembali Rencana Pembelajaran Semester (RPS), desain tugas, dan sistem ujian. Fokusnya bukan hanya pada materi yang harus disampaikan, tetapi pada kompetensi yang benar-benar perlu dimiliki peserta didik serta bukti yang menunjukkan kompetensi tersebut telah terbentuk.

Di tengah semakin canggihnya teknologi, Madlazim menilai pendidikan karakter justru semakin penting. Perguruan tinggi tetap memiliki tanggung jawab membentuk manusia yang kritis, kreatif, jujur, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki integritas.

“Peserta didik tidak perlu dididik untuk bersaing dengan AI. Mereka harus dididik agar mampu menggunakan AI untuk memperluas kemampuan tanpa kehilangan kemandirian berpikir,” tandasnya.

***  

Sumber: Opini Prof. Dr. Madlazim, Guru Besar FMIPA Unesa

Editor: @zam*

Ilustrasi: Made with Copilot

 

 

Terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):