Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Gaspol Sains Labschool Unesa Dorong Pembelajaran dari Hafalan ke Penguatan Penalaran

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Memahami konsep sains belum selalu berarti mampu menggunakannya untuk membaca fenomena, menganalisis data, mengevaluasi bukti, dan menyusun alasan secara ilmiah. Kesenjangan tersebut menjadi salah satu tantangan pembelajaran sains yang masih cenderung berorientasi pada hafalan.

Untuk itulah, Labschool Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Gerakan Akselerasi Strategis melalui Pola Olah Nalar Sains (Gaspol Sains) bagi guru-guru sains di lingkungan Labschool Unesa. Pelatihan berlangsung selama dua hari, 8–9 Agustus 2026, di Ruang Rapat Lantai 10 Gedung Rektorat Unesa, Kampus II Lidah Wetan, dan diikuti 20 guru sains dari enam sekolah pada jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Ketua Yayasan Labschool Unesa, Endah Purnomowati Nurhasan menuturkan, Gaspol Sains dirancang untuk mempercepat pembiasaan pola olah nalar sains melalui aktivitas pembelajaran yang singkat, intensif, kontekstual, dan berbasis bukti.

Pendekatan tersebut diarahkan agar pembelajaran IPA tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi berkembang menuju kemampuan berpikir ilmiah peserta didik.

“Melalui pendekatan tersebut, guru didorong mengembangkan pembelajaran IPA yang tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi juga membangun kemampuan berpikir ilmiah peserta didik,” jelasnya.

Kepala Badan Pengelola Labschool Unesa, Sujarwanto menjelaskan pelatihan tersebut secara khusus menyasar guru-guru sains di seluruh jenjang Labschool Unesa sebagai bagian dari peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional.

Pendekatan Gaspol Sains dikembangkan oleh tim pakar Unesa untuk memperkuat kemampuan guru dalam menguasai konsep sains, menerapkan metode ilmiah, serta mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada literasi sains.

“Dengan peningkatan kapasitas guru diharapkan berdampak pada kualitas hasil belajar peserta didik. Pengembangan program serupa ke depan tidak hanya diarahkan pada sains. Labschool Unesa juga menyiapkan pengembangan Gaspol Numerasi dan Gaspol Literasi sebagai bagian dari upaya memperkuat kompetensi peserta didik secara menyeluruh,” jelasnya.

Dari Knowing ke Applying dan Reasoning

Tim Pengembang Gaspol Sains, Madlazim, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari persoalan kemampuan sains peserta didik Indonesia yang masih menghadapi tantangan dalam berbagai asesmen nasional maupun internasional.

Ia menyebut, hasil berbagai asesmen seperti Programme for International Student Assessment (PISA), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), maupun Asesmen Kemampuan Sains Indonesia (AKSI) menunjukkan perlunya penguatan kemampuan sains peserta didik.

“Setelah diteliti, ada tiga kemampuan anak Indonesia, yaitu knowing, applying, dan reasoning, yang masih rendah,” ungkap guru besar FMIPA tersebut.

Penanggung Jawab Gaspol Sains, Binar Kurnia Prahani, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memiliki enam roh dasar yang menjadi alur utama dalam melatih pola olah nalar sains, yakni Amati, Tanya, Duga, Bukti, Simpulkan, dan Terapkan.

Kegiatan ini didukung penuh LPPM Unesa melalui tim yang diketuai Laily Rosdiana dengan anggota peneliti terdiri atas Muhammad Satriawan, Nurita Apridiana Lestari, Titin Sunarti, Ricky Setiawan, dan Andri Suyoko.

Keterlibatan tim lintas bidang tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendekatan pembelajaran sains yang tidak hanya kuat dari sisi konten, tetapi juga pedagogi dan pengembangan kemampuan berpikir peserta didik.

Pelatihan tidak hanya berisi pemaparan konsep. Selama dua hari, peserta mempelajari orientasi dan literasi saintifik, HOTS, AKM, dan PISA dalam pembelajaran sains. Mereka juga mempelajari Pola Olah Nalar Sains sebagai inti Gaspol Sains serta mengikuti simulasi Sains Fokus 15 Menit yang dapat diterapkan pada awal, tengah, maupun akhir pembelajaran.

Peserta kemudian mengikuti workshop penyusunan aktivitas pembelajaran berbasis fenomena menggunakan pola Gaspol Sains. Pada akhir kegiatan, guru melakukan refleksi sekaligus menyusun rencana tindak lanjut untuk mengimplementasikan pendekatan tersebut di kelas masing-masing.

Salah satu peserta, An-Nisa Mutiara Rizky Jannah, guru Sains SD Labschool Unesa 1, mengatakan pelatihan tersebut memberinya kesempatan mempelajari pendekatan baru dalam menyusun pembelajaran sains.

“Saya bersama peserta lainnya belajar menyusun modul ajar yang terintegrasi dengan sintaks Gaspol Sains, mulai dari kegiatan mengamati hingga tahapan ilmiah yang dilengkapi data. Semoga pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pembelajaran sains dengan mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa,” ungkapnya. ][

***

Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)

Editor: @zam*

F0to: Tim Humas Unesa

Terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs):