
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Tantangan guru di era sekarang tidak lagi sebatas menyampaikan materi di depan kelas. Calon pendidik dituntut memiliki kepekaan tinggi dalam mendidik keberagaman karakter siswa, sekaligus memiliki budaya riset untuk menuangkan dinamika kelas tersebut menjadi karya ilmiah yang berdampak luas.
Dua kompetensi esensial itulah yang dibedah dalam kuliah tamu bertajuk “Every Learner Is Different: Turning Classroom Diversity into a Publishable Scientific Article” di Auditorium LPSP, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kampus II Lidah Wetan, Surabaya, pada Jumat, 17 Juli 2026.
Agenda yang digelar Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Unesa ini menghadirkan dua guru besar dari University of Newcastle, Australia, yaitu Scott Imig dan Susan Ledger.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi menyampaikan bahwa mahasiswa PPG merupakan garda depan pendidik masa depan generasi bangsa. Mendidik beda dengan mengajar dari aspek nilainya, penekanan, pendekatan, hingga orientasinya.

www.unesa.ac.id
“Momentum ini menjadi kesempatan penting untuk menyerap perspektif global mengenai profesionalisme guru yang seimbang antara praktik mengajar dan kontribusi ilmiah,” ucapnya.
Dalam sesi pertama, Scott Imig menekankan pentingnya guru memiliki kesadaran diri (self-awareness) sebelum mencoba memahami peserta didik.
Menurutnya, karena setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, guru wajib menciptakan lingkungan belajar berbasis pengalaman (experiential learning) yang aman dan nyaman agar anak merasa dihargai.
Sementara itu pada sesi kedua, Susan Ledger melengkapi kemampuan mendidik tersebut dengan panduan taktis penulisan karya ilmiah.
Ia mengajak para calon guru membangun budaya riset berkualitas dengan jeli melihat persoalan di kelas, menemukan celah penelitian (research gap), serta menyusun abstrak yang kuat melalui lima tahapan sistematis: locate, focus, anchor, report, dan argue.

www.unesa.ac.id
Kepala BPPG Unesa, Fatkur Rohman Kafrawi menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut kolaborasi sepuluh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Indonesia yang tergabung dalam Indonesia–Australia Teacher Education Cooperation (IATEC).
“Sinergi ini difokuskan untuk mengadopsi praktik baik pendidikan Australia, mulai dari budaya literasi, berpikir kritis, hingga kedisiplinan. Cara ini untuk memastikan kualitas mahasiswa PPG benar-benar mumpuni menjadi guru yang dibutuhkan bangsa ini,” ucapnya.
Kegiatan ini disambut baik peserta. Salah satu peserta dari Prodi Pendidikan IPA, Silvia Aprilita Eka Prasetya mendapatkan banyak insight dari kegiatan tersebut, baik itu tentang cara mendidik, dan menghasilkan karya ilmiah.
“Ada formula konkret untuk menyusun artikel Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berdasarkan keberagaman siswa yang ditemui di kelas. Saya juga jadi tahu strategi agar karya ilmiah tersebut menembus jurnal bereputasi baik di tingkat nasional maupun internasional,” ucapnya. ][
***
Reporter: Mochammad Ja'far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: