Universitas Negeri Surabaya

Selamat datang di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berdiri sejak 1964, UNESA telah berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

Kontak Kami:
Follow Us:

Gandeng INOVASI, Unesa Bekali Mahasiswa PPG dengan Model Pembelajaran Inovatif dan Inklusif

bnr-arrow-1-1.png

Unesa.ac.id. SURABAYA—Di ruang kelas, tidak semua peserta didik datang dengan kebutuhan belajar yang sama. Karena itu, 613 calon guru Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dipersiapkan bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga memastikan keberagaman peserta didik tidak menjadi penghalang untuk belajar.

Calon guru dimatangkan melalui melalui Bimbingan Teknis Pembelajaran Pendidikan Inklusi bagi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 1 Semester 2 Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Pendidikan Profesi Guru Unesa bekerja sama dengan Tim Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) pada 14–15 Agustus 2026 di Gedung W1 Kampus 2 Lidah Wetan.

Kebutuhan pembekalan yang diikuti mahasiswa dari 15 program studi itu semakin penting karena calon guru akan berhadapan dengan peserta didik yang memiliki karakteristik, latar belakang, dan kebutuhan belajar yang beragam.

Dalam konteks tersebut, pendidikan inklusi tidak hanya berkaitan dengan penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga kemampuan guru menyesuaikan proses pembelajaran agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang layak.

Salah satu instruktur kegiatan, Wulan Patria Saroinsong menjelaskan materi yang mencakup prinsip dasar inklusi, penyusunan perencanaan pembelajaran, penyesuaian metode mengajar, penilaian yang adil, hingga pendekatan Desain Universal Pembelajaran (DUP).

“Pendekatan ini melatih calon guru merancang pembelajaran yang mengakomodasi segala perbedaan karakteristik, latar belakang, dan gaya belajar setiap anak,” ujarnya.

Menurut Silfia Asningtias dari PUI Disabilitas Unesa, pembekalan praktis tetap dibutuhkan meskipun mahasiswa telah memperoleh mata kuliah pendidikan inklusi selama perkuliahan. Bimtek memberikan kesempatan kepada calon guru untuk menghubungkan pengetahuan teoritis dengan penerapannya di lapangan.

“Pembelajaran di perkuliahan lebih banyak berisi teori, sedangkan bimtek ini memberikan ruang bagi calon guru untuk langsung mempraktikkan cara-cara penerapan inklusi di lapangan,” tegasnya.

Manfaat pembekalan tersebut juga dirasakan mahasiswa yang telah menjalani praktik pengalaman lapangan (PPL). Nur Hidayati Septi Rofiko, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ia mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut, terutama karena saat ini ia menjalani PPL di sekolah yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus.

“Saat ini saya sedang menjalani PPL yang terdapat siswa berkebutuhan khusus di dalamnya. Melalui kegiatan ini, saya jadi lebih paham bagaimana cara melayani dan mendampingi mereka dengan tepat,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Indria Widayana dari prodi yang sama. Menurutnya, ruang diskusi yang interaktif selama bimtek membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi persoalan yang mungkin ditemui ketika mengajar.

“Selama bimtek, saya sangat menikmati pembelajarannya karena instruktur membuka ruang diskusi yang interaktif, sehingga kami diberi banyak kesempatan bertanya dan berdiskusi secara terbuka. Tentu ini sangat membantu kami dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan di sekolah nanti,” ungkapnya.

Pembekalan pendidikan inklusi tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif serta SDGs 10 tentang pengurangan kesenjangan.

Melalui penguatan kapasitas calon guru, pembelajaran inklusif diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi dapat diterapkan dalam praktik pendidikan sehingga setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar tanpa terkecuali. ][

***

Reporter: Jessy Nora Sandy (FBS)

Editor: @zam*

Foto: Tim Humas Unesa