
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menerima kunjungan Ebenezer Bonyah melalui kegiatan Visiting Top Professor yang diselenggarakan pada Senin, 18 Mei 2026 di Auditorium FMIPA Kampus Unesa I Ketintang.
Kegiatan tersebut dibuka dengan keynote speech oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center, Bambang Sigit Widodo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa agenda ini merupakan wujud nyata komitmen Unesa terhadap keunggulan akademik dan kolaborasi global.
Ia secara khusus menyoroti reputasi internasional Ebenezer sebagai salah satu ilmuwan dunia yang masuk jajaran Top 2% Scientist dengan capaian H-index 52.
Ia juga mengajak seluruh dosen dan mahasiswa untuk aktif memanfaatkan kesempatan tersebut guna memperkuat budaya akademik dan memperluas jejaring kemitraan institusi di tingkat global.
Profesor bidang matematika dari Akenten Appiah Menka University of Skills Training and Entrepreneurial Development (AAMUSTED) itu menyampaikan materi bertema “Bridging Science and Education Through Mathematical Modelling for Sustainable Development.”
Menurut Ebenezer, universitas modern harus mampu menjadi laboratorium gagasan, penghasil solusi, sekaligus predictive engine bagi masyarakat. Fokus pendidikan, menurutnya, tidak lagi sebatas pada apa yang diketahui mahasiswa, tetapi pada apa yang dapat dimodelkan, dipecahkan, dan diubah oleh mahasiswa.
“Universitas yang modern harus menjadi laboratorium berkumpulnya gagasan, penghasil solusi, dan predictive engine bagi masyarakat, sehingga pertanyaan tidak lagi berupa apa yang mahasiswa ketahui, tetapi menjadi apa yang dapat dimodelkan, dipecahkan, dan diubah oleh mahasiswa,” katanya.

www.unesa.ac.id
Dalam paparannya, ia menunjukkan bahwa matematika bukan sekadar deretan angka untuk mencari nilai X dan Y. Melalui visualisasi, ia menjelaskan bagaimana struktur pola kain batik dapat dirumuskan menjadi model matematika yang presisi.
Ia juga membedah isu urban yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, seperti simulasi arus lalu lintas dan titik kemacetan di Kota Surabaya. Menurutnya, dinamika pergerakan kendaraan dapat dipetakan dan dicari solusinya secara saintifik melalui pemodelan matematika.
Ebenezer turut mengkritik cara mengajar matematika yang terlalu abstrak. Ia mencontohkan sampel darah di rumah sakit, takaran garam saat memasak sup, ayat Al-Qur’an, hingga struktur peti mati dan gedung sebagai bentuk nyata penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, menurutnya, korupsi dan pembelajaran bahasa pun dapat dijelaskan melalui pendekatan matematika.
“Jadi, perluasan pemahaman tentang realitas cara bermatematika perlu diajarkan di sekolah. Oleh karena itu, saya menyarankan agar bahkan di sekolah dasar, apa pun yang kita ajarkan di sana, jangan hanya mengajarkan X + Y. Semuanya harus dikaitkan dengan apa yang mereka lakukan, apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan setiap hari,” ujarnya.

www.unesa.ac.id
Kegiatan ini juga diikuti oleh sejumlah mahasiswa asing yang mengikuti program student exchange di Unesa. Salah satunya adalah Gennady Kozlov, mahasiswa asal Kazakhstan yang hadir untuk memperluas wawasan akademiknya.
Menurut Gennady, atmosfer akademik di FMIPA sangat kondusif bagi mahasiswa internasional karena seluruh kegiatan tersusun secara profesional dan nyaman.
“Menurut saya, atmosfer akademik di FMIPA Unesa sangat luar biasa selama kuliah internasional ini. Sesinya terstruktur dengan jelas, ada interaksi yang baik antara peserta dan profesor, dan mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertanya serta mendiskusikan ide,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kesempatan belajar langsung dari profesor kelas dunia seperti Ebenezer memberikan motivasi besar bagi dirinya dan mahasiswa lain untuk terus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan pemodelan modern.
Melalui kegiatan ini, Unesa berharap semangat kolaborasi akademik internasional semakin kuat, sekaligus mendorong mahasiswa dan dosen untuk melahirkan riset serta inovasi yang relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat. [ ]
***
Reporter: Aldian Lukmanul Hakim (Fisipol)
Editor: @rach*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: