
Unesa.ac.id. SURABAYA— Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara pengetahuan diproduksi, dipelajari, dan dimanfaatkan. Di tengah perubahan tersebut, perguruan tinggi didorong tidak berhenti sebagai pengguna teknologi baru, tetapi juga memperkuat kapasitas untuk menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pendidikan di Era Digital, AI, dan Geopolitik” yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Whiz Luxe Hotel Surabaya, pada Jumat (28/8/2026). Forum tersebut mempertemukan perspektif perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas arah pendidikan dan riset menghadapi perubahan teknologi dan dinamika global.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengatakan perkembangan AI telah mengubah lanskap pendidikan sekaligus persaingan global. Kondisi tersebut menuntut Indonesia memperkuat talenta, riset, dan inovasi agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.
Menurutnya, kolaborasi antara pendidikan, inovasi, dan investasi menjadi bagian penting untuk menghasilkan teknologi yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
“Kolaborasi antara pendidikan, inovasi, dan investasi dinilai mampu menghasilkan teknologi yang memberikan dampak ekonomi serta sosial bagi masyarakat,” ujarnya.
Dorongan untuk memperkuat kapasitas tersebut juga berimplikasi pada cara perguruan tinggi menyiapkan lulusan. Wakil Ketua Umum I PSSI, Zainudin Amali, mengatakan perkembangan AI mengubah pola pekerjaan sehingga pendidikan perlu memberi ruang lebih besar bagi kemampuan yang tidak cukup dibentuk melalui hafalan.
“Lembaga pendidikan perlu memperkuat kurikulum yang adaptif serta membangun literasi digital dan AI secara merata agar mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan,” terangnya.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, analisis, dan adaptasi menjadi semakin penting ketika teknologi mampu mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk memastikan pemanfaatan AI dalam pendidikan tetap berada dalam koridor akademik. Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro, Mohamad Nasir, menyebut integrasi AI dalam pembelajaran membuka peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pendekatan seperti personalized learning, MOOCs, dan learning analytics.
Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan integritas akademik, privasi, dan kesenjangan digital.
Bagi Unesa, perubahan tersebut menjadi bagian dari agenda pengembangan pendidikan tinggi dan riset yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Rektor Unesa, Nurhasan, mengatakan pembahasan dalam FGD diarahkan untuk merumuskan tema-tema strategis yang dapat menjadi acuan pengembangan produk penelitian ilmiah yang relevan.
“Langkah ini dilakukan untuk merumuskan arah pengembangan pendidikan tinggi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia,” jelas Cak Hasan.
Selain transformasi pendidikan dan AI, forum tersebut juga membahas peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan pembangunan, penguatan tata kelola, serta integritas ekosistem pendidikan tinggi.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Abdul Haris, mendorong kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan wilayah melalui program pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Eduart Wolok, memaparkan penguatan integritas ekosistem perguruan tinggi melalui Program Penguatan Integritas Ekosistem Perguruan Tinggi Negeri (PIEPTN).
Program tersebut mencakup penguatan asesmen mandiri dan pengendalian risiko pada sejumlah bidang, termasuk publikasi penelitian, pengadaan barang dan jasa, pengelolaan keuangan, serta seleksi mandiri. ][
***
Reporter: Saputra
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






