
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., SURABAYA– Confucius Institute Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) menggelar seminar budaya bertajuk “Beijing Opera Drum: Menyebarkan Musik Luhur Merayakan Kemegahan Festival Dragon” di Auditorium T2 Lantai 3, FBS, Unesa pada Jumat, 5 Juni 2026.
Kegiatan ini menghadirkan pakar seni Opera Peking asal Tiongkok, Pan Jingjing Laoshi, sebagai narasumber utama yang membagikan wawasan sekaligus praktik langsung kepada mahasiswa.
Agenda yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa selingkung Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Mandarin ini bertujuan untuk bertujuan mengenalkan seni budaya Tiongkok kepada mahasiswa.
Sekretaris Lembaga Pendidikan dan Sertifikasi Profesi (LPSP) Unesa, Anung Priambodo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen Confucius Institute Unesa dalam memperkenalkan dan melestarikan seni budaya Tiongkok sekaligus mempererat hubungan budaya Indonesia dan Tiongkok melalui pendidikan dan seni.
“Kegiatan ini juga diarahkan untuk menggali potensi mahasiswa di bidang seni dan budaya Tiongkok. Kami berharap mahasiswa dapat mengenal dan tertarik pada Opera Peking yang ke depannya bisa menjadi bekal untuk berpartisipasi dalam kompetisi Chinese Bridge,” ujarnya.

www.unesa.ac.id
Disisi lain, direktur CI Unesa, Dwi Lorry Juniarisca, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin CI dalam memperkenalkan kebudayaan Tiongkok kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin.
“Tujuan utama Confucius Institute adalah mengenalkan bahasa dan kebudayaannya. Melalui kegiatan ini kami ingin mahasiswa mengenal terlebih dahulu apa itu Peking Opera dan menumbuhkan minat mereka untuk mendalaminya,” jelasnya.
Pengenalan budaya semacam ini juga menjadi bagian dari persiapan mahasiswa menghadapi ajang Chinese Bridge, kompetisi internasional bahasa dan budaya Tiongkok yang diselenggarakan setiap tahun.
Sementara itu, Dekan FBS Unesa, Syafi'ul Anam. mengapresiasi sinergi antara CI dan Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin dalam menghadirkan pengalaman belajar lintas budaya bagi mahasiswa.

www.unesa.ac.id
“Belajar bahasa tidak cukup hanya berbicara, membaca, menyimak, dan menulis. Mahasiswa juga perlu memahami budayanya. Melalui seni seperti Opera Peking ini, pemahaman lintas budaya mahasiswa akan semakin kuat,” tuturnya.
Menurutnya, kegiatan ini juga berpotensi melahirkan talenta-talenta mahasiswa yang dapat dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi Chinese Bridge di masa mendatang. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut sehingga mahasiswa memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan seni dan budaya Tiongkok secara berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2025, Javelyn Loveisa Harsono, mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena memberikan pengalaman baru dalam memahami budaya Tiongkok secara langsung.
“Kegiatannya seru banget. Aku memang tertarik dengan budaya Tiongkok, terutama saat melihat mereka bernyanyi. Dari kegiatan ini aku jadi tahu proses dan tekniknya secara lebih dekat,” ungkapnya. [ ]
***
Reporter: Diva Novana Widia Putri (FEB)
Editor: @rach*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: