
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id, SURABAYA— Confucius Institute Universitas Negeri Surabaya (CI Unesa) menggelar kuliah umum bersama Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Ye Su, di Gedung Rektorat Kampus Unesa II Lidah Wetan pada Rabu, 20 Mei 2026.
Kegiatan bertema “Dua Keajaiban Perkembangan Tiongkok dan Rahasia di Baliknya” ini bertujuan membuka peluang bagi mahasiswa dan dunia industri untuk berkembang, baik dalam bidang akademik, penelitian inovasi, maupun pertukaran budaya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya mempererat hubungan Indonesia dan Tiongkok, khususnya di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center Unesa, Bambang Sigit Widodo, menyampaikan bahwa agenda ini memiliki peran penting sebagai ruang berbagi pengetahuan sekaligus jembatan untuk memperluas perspektif global mahasiswa.
“Tema yang diangkat hari ini sangat relevan dengan dinamika dunia saat ini, di mana perkembangan Tiongkok menjadi salah satu fenomena global yang menarik untuk dipelajari dari berbagai sudut pandang, baik ekonomi maupun pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen Unesa dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan melalui berbagai kerja sama strategis, termasuk kolaborasi dengan mitra-mitra dari Tiongkok.

www.unesa.ac.id
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) itu berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk belajar langsung dari pengalaman dan wawasan internasional.
Sementara itu, Ye Su memaparkan dua keajaiban utama Tiongkok, yakni perkembangan ekonomi yang pesat dan stabilitas sosial jangka panjang. Menurutnya, Tiongkok sebagai negara berkembang terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia mampu menghadapi tantangan pembangunan melalui jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya sendiri.
Ia menjelaskan terdapat empat faktor utama di balik keberhasilan tersebut, yaitu kestabilan kebijakan dan strategi pemerintah, fokus pada ekonomi riil, pemerataan pendidikan dasar dan tinggi, serta pengentasan kemiskinan secara presisi dan berkelanjutan.
Dalam rencana modernisasi ala Tiongkok, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperoleh manfaat, mulai dari akses pasar konsumen Tiongkok yang luas, investasi, ekspor, hingga penguatan hubungan antar masyarakat kedua negara.
“Kemiskinan menyebabkan keterbelakangan yang dapat memicu kejahatan dan kekacauan. Karena itu, pengentasan kemiskinan menjadi hal mutlak untuk meningkatkan kesejahteraan dan menjaga stabilitas pembangunan,” tegasnya.
Ia berharap mahasiswa dapat memahami perkembangan Tiongkok secara lebih luas dan aktif berpartisipasi dalam pertukaran maupun kerja sama internasional yang dapat mendukung pengembangan diri sekaligus memperkuat persahabatan Indonesia dan Tiongkok. [ ]
***
Reporter: Medina Azzahra (FBS)
Editor: @rach*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: