
Unesa.ac.id. SURABAYA— Kemampuan berbahasa menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa yang ingin bekerja, belajar atau memperkuat pengalaman di Jepang. Namun, kemampuan tersebut perlu dilengkapi pemahaman mengenai budaya, hukum, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat setempat agar mampu beradaptasi lebih utuh.
Mahasiswa mendapatkan bekal tersebut dalam seminar internasional bertajuk “Human Resource Development through Diverse Knowledge Connecting Indonesia with the World” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama dengan Eurasia Foundation di Gedung Auditorium T2 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama empat bulan dengan berbagai sesi tersebut menghadirkan sekitar 15 praktisi dan akademisi dari lintas negara. Setiap sesi diikuti sekitar 100 mahasiswa yang memperoleh pembekalan mengenai bahasa, budaya, bisnis, hukum, serta persoalan sosial dan ekonomi global, khususnya yang berkaitan dengan Jepang.
Dekan FBS Unesa, Syafi’ul Anam, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkokoh kompetensi mahasiswa yang dipersiapkan memasuki lingkungan profesional di Jepang.
“Selain bahasanya yang diasah selama empat tahun, tetapi juga membekali mereka tentang budaya dan hukum setempat. Kami hadirkan langsung pakarnya, sehingga mahasiswa benar-benar kuat kemampuannya,” ucapnya.
Koordinator Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang Unesa, Rusmiyati, mengatakan pengalaman mahasiswa yang mengikuti program ke Jepang menunjukkan bahwa interaksi langsung dengan lingkungan budaya memberikan manfaat penting bagi pembentukan wawasan global.

“Prodi mengirim internship atau program ke Jepang pertama kali tahun 2017 sekitar 2 atau 3 orang. Ternyata itu sangat bermanfaat, mereka punya pengalaman budaya langsung di Jepang. Jadi, pengetahuan global tidak sekadar tentang bahasa saja, melainkan juga budaya, ekonomi, lingkungan, dan bisnis,” ujarnya.
Pembekalan tersebut diarahkan agar mahasiswa memiliki wawasan yang lebih luas ketika nantinya bekerja di lingkungan internasional, khususnya perusahaan di Jepang. Pemahaman terhadap prosedur dan karakter lingkungan kerja menjadi bagian dari kesiapan mereka untuk beradaptasi.
Salah satu narasumber dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Murni Ramli, memberikan contoh mengenai budaya menjaga lingkungan di Jepang. Menurutnya, kedisiplinan dalam pengelolaan sampah menjadi salah satu praktik yang dapat dipelajari dari kehidupan masyarakat Jepang.
Kesadaran tersebut, lanjutnya, diperkenalkan sejak tingkat sekolah dasar melalui pembelajaran kecakapan hidup. Masyarakat Jepang juga memiliki penghargaan terhadap alam yang berkaitan dengan kepercayaan tradisional. Pun soal sampah ada jadwalnya, tak bisa sembarang.
Menurut Murni, pemahaman terhadap suatu masyarakat tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang berkembang di dalamnya, baik yang bersumber dari agama maupun pemaknaan masyarakat terhadap alam. Karena itu, pemahaman lintas budaya diperlukan agar seseorang dapat menghargai nilai dan kebiasaan yang berlaku di tempat lain. ][
***
Reporter: Medina Azzahra (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa






