
Unesa.ac.id. SURABAYA— Berangkat dari keluarga guru ngaji dan penenun, Habib Nihla Thohari berhasil menyelesaikan studi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan IPK 3,91 dan predikat pujian pada wisuda ke-121 Unesa, pada 12 Agustus 2026 lalu. Penerima KIP Kuliah tersebut juga menorehkan sejumlah prestasi akademik dan nonakademik hingga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol).
Perjalanan Habib menuju perguruan tinggi tidak lepas dari peran kedua orang tuanya, Busairi dan Merwahidatun. Keduanya berprofesi sebagai guru ngaji sekaligus bekerja sebagai penenun di kampung halaman. Meski berasal dari keluarga dengan latar pendidikan sederhana, keduanya selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah masa depan.
Kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi diperoleh Habib melalui program KIP Kuliah. Baginya, beasiswa tersebut tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan pendidikan, tetapi juga menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi.
Dari proses akademiknya, Habib mengangkat isu perundungan dalam skripsi berjudul ‘Penguatan Karakter Cinta Damai dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila sebagai Upaya Pencegahan Bullying.’ Penelitian tersebut dilakukan di SMP Wachid Hasyim Dharma Surabaya, tempat ia menjalankan Program Kampus Mengajar.
Menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap peserta didik. Karena itu, penguatan karakter cinta damai perlu ditanamkan melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila sejak dini.
Penelitian tersebut kemudian dikembangkan menjadi artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 3.
Di luar akademik, Habib aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Pengalaman tersebut membantunya mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, jejaring, serta penyelesaian konflik. Ia melihat aktivitas organisasi dan akademik dapat berjalan beriringan selama dikelola dengan baik.
Perjalanan prestasinya pun tidak langsung berjalan mulus. Pada semester awal, ia beberapa kali mengikuti perlombaan tetapi belum berhasil meraih kemenangan. Pengalaman tersebut justru menjadi titik balik untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Memasuki semester empat, capaian mulai datang. Habib meraih Juara I Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) tingkat Fisipol sekaligus Best Speaker, lolos pendanaan Program Mahasiswa Berdampak, menembus semifinal lomba debat nasional tingkat Otorita Ibu Kota Nusantara, serta meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat internasional bersama tim.
Konsistensinya juga mengantarkan Habib menjadi Mahasiswa Berprestasi tingkat program studi. Namun, capaian tersebut tidak serta-merta menggambarkan perjalanan Habib.
Ia mengaku pernah menjadi pribadi yang minder. Latar belakang sebagai anak desa dan pengalaman belum pernah bersekolah di sekolah negeri membuatnya sempat kesulitan beradaptasi ketika memasuki lingkungan kampus.
Lingkungan organisasi yang suportif kemudian membantunya membangun kepercayaan diri. Dari sana, ia mulai berani mengambil peluang, memperluas pergaulan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Kini, setelah menyelesaikan studi sarjana, Habib menyiapkan langkah berikutnya. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui beasiswa dan bercita-cita menjadi dosen. “Ilmu akan tetap hidup ketika dibagikan kepada orang lain. Itulah alasan saya ingin menjadi dosen,” pungkasnya. ][
***
Reporter: Sindy Riska Fadilah (Fisipol)
Editor: @zam*
Dokumentasi: Habib Nihla Thohari






